Belajar Strategi Pengawasan dari Filosofi Sepak Bola

Memperkuat Pengawasan, Menjaga Netralitas ASN. RUMAHPEMILU

Mata merupakan salah satu alat indra penglihat bagi semua makhluk. Prinsip kerja dari mata tidak jauh berbeda dengan kamera, yaitu sama-sama alat optik yang dapat mengambil gambar dan merekam bayangan dengan dibentuk lensa. Persamaan keduanya, sama-sama memerlukan cahaya. Hati merupakan salah satu organ terbesar yang ada di dalam tubuh manusia. Fungsi hati di antaranya sebagai penawar racun dalam tubuh, membantu ginjal memproduksi urine (sistem ekskresi), dan lainnya.

Mata dan hati memiliki keterkaitan yang sangat erat, mata diibaratkan sebagai pintu hati, dengan menjaga mata, maka hati juga terjaga terjaga. sering dipahami orang yang tidak bisa menguasai matanya maka hatinya tidak bernilai dan tidak berharga, Hati disebut juga kunci kehidupan. Pengawasan juga mengedepankan mata hati karena pada prinsipnya pengawasan bertujuan menjaga iklim kondusifitas daerah, dengan menegakkan hukum tanpa ekses.

Sinergi hal di atas dengan peran Panwaslu desa diibaratkan seorang Panwaslu Desa idealnya memiliki mata tajam pengawasan, Karena hal tersebut relevan dengan tugasnya yaitu mengawasi tahapan penyelenggaraan pemilihan di tingkat Desa atau kelurahan.

Pengawasan Pemilu merupakan kegiatan mengamati, mengkaji, memeriksa, dan menilai proses penyelenggaraan Pemilu sesuai peraturan perundang-undangan yang ada. Pengawas Desa perannya sebagai ujung tombak dari pengawasan, karena bersentuhan langsung dengan grass root atau akar rumput. Mendengar (sesuai fungsi utama dari telinga yaitu untuk pendengaran dan juga keseimbangan tubuh) dipahami sebagai salah satu kunci atau bagian penting dalam menunjang tugas sebagai pengawas di lapangan.

Strategi Pengawasan

Saat ketiga organ dapat dijalankan secara tepat dan cepat, maka hal tersebut dapat mendukung kinerja kita sebagai penyelenggara pemilu dalam ranah pengawasan. Beberapa strategi pengawasan di antaranya, pertama yaitu koordinasi dan sosialisasi. Ketika resmi dilantik menjadi seorang Panwas baik itu Panwaslu kecamatan maupun Panwaslu Desa, maka tugas pertama kita adalah berkoordinasi dan sosialisasi tentang keberadaan kita kepada stakeholder di tingkat wilayah. Sinergi yang kita bangun, bermanfaat untuk menyampaikan peringatan dini kepada stakeholder (Perangkat Desa, tokoh masyarakat), penyelenggara Pilkada (PPS) dan pemangku kepentingan lainnya agar tidak melakukan pelanggaran.

Kedua, melakukan identifikasi dan pemetaan titik-titik rawan pelanggaran pada setiap tahapan. Titik krusial pengawasan mencakup tiga hal diantaranya, pertama money politic (politik uang) artinya sebagai pengawas terpilih idealnya mampu meyakinkan masyarakat tentang dampak politik uang. Politik uang menurut undang-undang dilarang dan agama pun melarang. Kondisi terkini akses money politic dapat menjerat penerima dan pemberi. Titik krusial pengawasan yang kedua yaitu aparatur sipil negara (ASN) netral tidak terlibat dalam politik praktis, saling mendukung pasangan calon dan atau penggunaan fasilitas pemerintah.

Ketiga, politisasi Sara misal kabar Hoax. Adanya UU ITE berkonsekuensi hukum terhadap pengguna atau pengunggah konten media sosial. Oleh karena itu kita diminta bijak dalam bermedsos, masyarakat dihimbau menggunakan medsos untuk hal-hal positif, tidak menyebarkan hoax, fitnah, bahkan me-like atau mengomentari status yang negatif.

Idealnya pengawas concern pada cegah, awasi dan tindak, centrum pengawas dengan menjelaskan ke publik mana yang benar dan mana yang tidak. Beberapa langkah pencegahan yang baik di antaranya adalah saat acara kampanye, kita dapat merekam pidato dari jurkam, sehingga hal ini dapat difungsikan sebagai fungsi kontrol.

Memviralkan konten-konten pengawasan pemilu, gunakan medsos (TV, Web, Facebook, Instagram, dan lainnya) untuk melakukan sosialisasi pencegahan pemilu dan jadilah panwas yang dapat bermetamorfosa, kreatif dan inovatif.

Ketiga yaitu mendorong secara aktif peran serta masyarakat untuk melakukan pengawasan Pemilu. Dalam rangka memaksimalkan pengawasan Pilkada, Pengawas Pemilu dapat mengajak masyarakat berupa himbauan untuk turut serta melakukan pengawasan tahapan Pilkada mulai dari rekruetmen badan Adhoc (PPK, PPS, KPPS), tahapan pencalonan, Pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih, Kampanye, distribusi logistik, pemungutan suara dan rekap penghitungan suara.

Sebagai pengawas tentunya kita lebih mengedepankan soft approach“Sekecil apa pun bentuk laporan yang masuk, untuk dapat kita diterima. Jangan sekali-kali menolak laporan yang masuk.

Antara Mata, Hati dan Telinga, ketiganya saling komplementer. Jika kita analogikan dengan pengawasan. Mengawasi tanpa mata berarti akan berjalan tanpa arah dan tujuan, mengawasi tanpa hati akan menimbulkan arogansi dan subyektifisme sedangkan mengawasi tanpa mau mendengarkan orang lain berarti akan dikhawatirkan akan menimbulkan kesewenangan-wenangan.

Belajar Pengawasan dengan Filosofi Sepak Bola

Cabang olah raga sepak bola memiliki daya magis tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Salah satu indikator suksesnya sepak bola bagi suatu Negara adalah ikut berpartisipasi menjadi peserta piala dunia. Menarik untuk kita diskursus dan persamaan antara pengawasan pemilu dengan sepak bola.

Banyak faktor yang mempengaruhi sepak bola dikatakan sukses di antaranya manajemen federasi yang baik, pengelolaan akademi pemain muda, sarana dan prasarana yang memadai serta adanya perangkat pertandingan (wasit, hakim garis, panpel, dan lain-lain). Kesuksesan pergelaran jadwal pertandingan sepak bola dapat diukur dengan ketepatan waktu pertandingan, sportivitas fair play yang dijunjung kedua tim serta dewasanya sikap suporter.

Jika kita komparasikan dengan pemilu, salah satu indikator pemilu dikatakan sukses diantaranya karena partisipasi pemilih yang tinggi, penyelenggara yang berkualitas dan independen, berlangsungnya pelaksanaan pemilu secara damai dan lain-lain. Hal di atas dapat menjadi tolak ukur suksesnya proses sistem demokrasi yang berjalan dengan tetap terjaganya kondisi stabilitas nasional.

Ada banyak kesamaan prinsip antara pengawasan pemilu dengan sepak bola, yaitu yang pertama sama-sama mematuhi dan menjunjung tinggi regulasi, yang kedua sama-sama menghadirkan kontestan untuk berkompetisi dengan memegang teguh fair play dan sportivitas dan ketiga sama-sama adanya penyelenggara.

Analogi yang dapat digunakan yaitu pengawas pemilu seperti wasit dalam sepak bola, panitia penyelenggara (panpel bola) sama dengan penyelenggara pemilu (KPU), komite disiplin adalah (DKPP) dan kedua kesebelasan yang berkompetisi atau bertanding adalah (peserta pemilu).

Disiplin dan Bijak dalam Mengambil Keputusan

Wasit yang tegas, disiplin, independen, jujur dan adil merupakan elemen penting dalam permainan sepak bola. Seringnya muncul kerusuhan di dalam maupun di luar stadion karena diakibatkan oleh kepemimpinan wasit, sehingga idealnya dapat memimpin, mengawasi jalannya laga dengan disiplin dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Dalam hal ini permainan sepak bola dan pemilu sama-sama sepakat bahwa wasit bertugas memimpin, mengawasi dan menindak pelanggaran yang terjadi. Relevan dengan pengawas pemilu yang ada untuk memastikan pemilu berjalan dengan baik dan benar.

Langkah pendekatan seorang wasit dan pengawas pun ada kesamaan, wasit akan memberi peringatan terlebih dahulu kepada pemain dari tim yang bertanding bila melakukan pelanggaran, kemudian akan memberikan kartu kuning atau kartu merah jika pelanggaran yang dilakukan intoleransi. Sama halnya dengan pengawas pemilu diberikan kewenangan untuk merekomendasikan perbaikan dengan diingatkan (lisan) terlebih dahulu tidak langsung melakukan penanganan pelanggaran.

Pengawas pemilu diharapkan mampu menjalankan trilogi pengawasan CAT (cegah, awasi, dan tindak) untuk meminimalisir bentuk pelanggaran pemilu demi terwujudnya pemilu yang berkualitas dan bermartabat. Pengawas tidak boleh lelah untuk terus mengingatkan kepada penyelenggara maupun calon yang ikut berkompetisi untuk mematuhi regulasi dan berjalan di atas kebenaran.

Salah satu wasit terbaik dunia di masanya, Wasit Pierluigi Collina dari italia merupakan wasit terbaik di zamannya, Ia mendapat penghargaan dunia selama enam kali berturut-turut (1998-2003). Kepala plontos dan tatapan matanya yang tajam merupakan ciri khasnya. Ia disegani dan dihormati ketika di lapangan dengan tidak segan-segan memberikan kartu kuning maupun kartu merah.

Seiring perkembangan zaman, wasit dilengkapi dengan alat komunikasi sistem canggih seperti teknologi VAR, mikrofon, headset, dan lainnya. Tetapi tetap membawa peralatan konvensional seperti peluit, kartu pelanggaran, dan buku catatan kecil yang disebut juga dengan buku laporan. Buku tersebut wajib diisi oleh wasit untuk menulis atau menguraikan segala kegiatan yang terjadi seperti pemain yang mencetak gol, pemain yang mendapat kartu, pergantian pemain.

Buku ini mirip dengan ‘Form A’ Pengawasan yang menjadi senjata utama pengawas pemilu. Pengawas pemilu pun sekarang sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas IT, seperti wifi, komunikasi menggunakan teknologi zoom, dan lainnya. Indonesia dapat menjadi panutan bagi negara-negara yang lain dalam belajar berdemokrasi.

Add Comment