Rembang Kabupaten Literasi Demokrasi, Sebuah Inisiasi

Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang, salah satu simbol keberhasilan literasi. KEMDIKBUD

Pada Rabu, 5 Februari 2020, kita turut berbangga, saat seorang warga Kabupaten Rembang, Ahmad Nahidl Silmy, berhasil menjadi mahasiswa Indonesia pertama yang meraih gelar doktor linguistik di Universitas Islam Madinah (UIM). Ketika itu, Nahidl berhasil mempertahankan disertasinya berjudul ‘Penelitian dan Autentikasi Buku: Al-‘Ubab Az-Zakhir Wa Al-Lubab Al-Fakhir’ karya Al-Hasan bin Muhammad As-Shogony. Al ‘Ubab adalah kamus Bahasa Arab terbesar di abad ke-7 Hijriah.

Ahmad Nahidl Silmy tentu bukan tanpa alasan memilih Al ‘Ubab. Kamus ini menjadi rujukan banyak akademisi linguistik Arab sejak dahulu. Salah satunya, Fairuzabadi (w. 817 H). Ia menjadikan kitab ini sebagai rujukan utama dalam penyusunan kamus Arab di seluruh dunia, Qomus Al Muhith. Al ‘Ubab hingga saat ini masih berupa manuskrip dan belum pernah dicetak, kecuali beberapa bagian. Disertasi Nahidl menjadi salah satu karya ilmiah yang mengkaji sebagian dari manuskrip tersebut.

Apabila dirunut, Rembang memang punya banyak kisah literatif. KH Bisri Mustofa, misalnya. Pada tahun 1960, beliau mengarang kitab tafsir Al-Ibriz li Ma’rifah Tafsir Al Qur’an Al-‘Aziz. Kiai Bisri dikenal mampu mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit menjadi gamblang serta mudah diterima oleh semua kalangan.

Tradisi literatif tersebut dilanjutkan secara konsisten oleh salah satu putranya, KH Mustofa Bisri, atau akrab dikenal dengan sebutan Gus Mus. Tulisan-tulisan Gus Mus membuat hal berat menjadi begitu ringan, hal membosankan menjadi menyenangkan, juga hal sepele menjadi amat penting. Kritiknya sangat tajam tapi menyegarkan. Pihak yang terkena kritik pun tidak marah, karena disampaikan secara sopan dan elegan.

Sambung menyambung, kini publik pun mafhum dengan nama besar ulama Rembang yang juga memegang-teguhi literasi. Ada KH Maimun Zubair atau Mbah Moen, juga KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab dikenal dengan Gus Baha’.

Menurut pemahaman umum, literasi dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Namun, dalam kacamata kekinian, literasi tidak lagi sebatas membaca dan menulis. Literasi kini meluas pada ungkapan lain, seperti literasi media, literasi ekonomi, literasi politik, dan masih banyak lagi. Literasi menyatu dalam gerak kehidupan manusia di berbagai sektor.

Literasi Demokrasi

Suatu ketika, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era pemerintahan Soeharto, Daoed Joesoef, menulis buku berjudul Bukuku (2004). Ia berpandangan, membaca adalah salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi Indonesia jika ingin melangkah lebih jauh sebagai negara demokrasi.

Menurutnya, sebuah ‘demokrasi’ hanya akan berkembang sekaligus berkelanjutan di suatu masyarakat yang para warganya adalah pembaca, adalah individu-individu yang merasa perlu untuk membaca, bukan sekadar pendengar dan berbicara.

Senada dengan itu, Merle Calvin Ricklefs, seorang sejarawan kontemporer Australia yang dianggap memiliki otoritas dalam sejarah Jawa, terutama pada periode 1600-an hingga 1900-an, berpendapat bahwa sisi kegagalan demokrasi Indonesia pada dekade 1950-an disebabkan oleh lemahnya fondasi demokrasi.

Lebih verbal, Ricklefs menulis, sebuah negara yang masih ditandai oleh tingginya tingkat buta huruf, rendahnya pendidikan, buruknya kondisi ekonomi, lebarnya kesenjangan sosial, dan mentalitas otoritarian, wilayah politik masih merupakan hak istimewa milik sekelompok kecil elite politisi.

Sementara, budaya demokrasi mengandaikan adanya empati dan partisipasi, yakni kesanggupan untuk memahami dan menempatkan diri dalam situasi orang lain yang menjadi ajakan bagi kesediaan berperan aktif dalam penyelesaian masalah-masalah kolektif. Kemampuan empati dan partisipasi ini bisa ditumbuhkan oleh kekuatan literasi. Demikian kata Daniel Lerner dalam the Passing of Traditional Society (1958).

Rembang Kabupaten Literasi Demokrasi

Sebenarnya, belum pernah ada data valid tentang minat membaca warga Kabupaten Rembang, atau misalnya jumlah terbitan selama setahun. Meski hal itu dapat menjadi salah satu indikator keliterasian. Namun setidaknya, berdasarkan kutipan sejarah yang telah saya sebut tadi, Rembang secara alamiah berpotensi besar menjadi ‘Kabupaten Literasi’, mulai dari ‘Literasi Demokrasi’.

Suksesnya penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Rembang tahun 2020 yang belum lama ini digelar jelas mewakili fenomena kedemokrasian yang patut dikisahkan, dituliskan, diliterasikan. Isu tentang partisipasi pemilih, animo dukungan politik, dinamika kampanye, dan lainnya, adalah input utama literasi demokrasi.

Dengan begitu, Rembang dapat menjadi kabupaten pemandu penyelenggaraan kontestasi Pilkada, bila diliterasikan. Semua pemangku kepentingan patut untuk bersumbangsih karya dalam literasi demokrasi ini. Kisah-kisah inspiratif berdasarkan fakta yang terus didokumentasikan akan membentuk mozaik baru praktik demokrasi di Indonesia, khususnya.

Mari berliterasi demokrasi. Mari menulis tentang hal menarik di sekeliling Anda tentang praktik demokrasi. Mari menjadikan Rembang sebagai Kabupaten Literasi.