Audiensi Forkompinda Rembang dengan Masyarakat Desa Krikilan

Forkompinda Rembang Saat Audiensi dengan Masyarakat Krikilan. (Foto: IG Humasrembang)

Rembang – Pemkab Rembang, memberi waktu dua hari lamanya kepada PT. Super Energi (SE) untuk mencari lokasi di Desa Krikilan sebagai tempat pembangunan stasiun gas.

Hal itu disampaikan oleh Bupati Rembang, Abdul Hafidz, saat audiensi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Rembang dengan masyarakat Desa Krikilan, bertempat di aula kompleks Pasar Desa Krikilan, pada hari kamis (2/1/2019).

Bupati mengatakan akan dilakukan penghentian sementara untuk memenuhi kepentingan negara dengan adanya pendirian gas dan memenuhi keinginan masyarakat Desa Krikilan yang menginginkan lokasi pendirian stasiun gas di lokasi desa setempat, dengan tidak melanggar Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

“Saya meminta wilayah tanah yang kira-kira dengan cepat kita clearkan dari sisi teknis tata ruang, aman, tidak mengganggu masyarakat. Sehingga kepentingan negara terpenuhi dan kepentingan masyarakat terpenuhi,” paparnya.

“Kebersamaan masyarakat diperlukan mengingat PT. SE harus bisa mengalirkan gas pada 19 Januari 2020. Namun lokasi stasiun gas tidak bertentangan dengan Undang-undang RTRW. Apabila bertentangan dengan RTRW maka pemangku kebijakan akan diancam hukuman 5 tahun penjara,” tambah Bupati.

Sementara itu sebelumnya, perwakilan PT. SE, Ari Kudadi mengungkapkan PT. SE membeli gas dari Perusahaan Hulu Energi selaku pengebor sumur gas. Pengeboran gas dilakukan di tahun 2017, tetapi oleh pemerintah pusat ijin pembelian baru turun Desember 2019.

Ari Kudadi menegaskan alasan filosofis pembangunan stasiun di Jatihadi karena tanah di Desa Krikilan tidak sesuai RTRW, peruntukannya tidak untuk industri dan dari segi lalu lintasnya untuk lewat kendaraan pengangkut gas kurang memadai.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Krikilan, Sutoyo menyoroti lokasi pendirian stasiun gas di Desa Jatihadi yang dirasa tidak memperhatikan K3 yaitu keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja, Karena, penurunan pipa hanya memakai gerobak saja, sehingga mengakibatkan kecelakaan kerja.

Jika pembangunan stasiun berlanjut di Desa Jatihadi menurut Sutoyo akan berekses bagi masyarakat karena pipanya ditanam di tanah akan rawan lerusakan, seperti bocor. Pendirian stasiun dekat dengan tiang listrik dapat memijarkan api atau ledakan.