Mbah Mun, Kyai Kharismatik Teladan Bagi Ummat

Gus Mus Saat Memberikan Tausiah Memperingati 40 Hari KH Maimun Zubair. (Foto: Kemenag Rembang)

Rembang – KH Maimun Zubair merupakan sosok yang menjadi teladan bagi ummat, tak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Semua perilaku yang sesuai dengan perkataannya menjadi panutan umat. Ulama yang keberadaannya sudah langka.

“Sangat susah dan langka kita temukan Ulama kharismatik seperti Mbah Maimun, ibaratnya Mencari sosok Mbah Mun itu ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami.” Ungkap KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus saat memberikan tausiyah pada acara 40 Hari Memperingati wafatnya KH Maimun Zubair yang diadakan di Ponpes Raudlatut Tholibin, Leteh pada Kamis (12/9/2019).

Gus Mus menyebut kyai kharismatik ini sebagai wali. “Mbah Mun itu tidak hanya dawuh saja, tapi juga perilakunya sesuai dengan apa yang didawuhkan,” ujar Gus Mus.

Gus Mus menambahkan, Mbah Mun sangat memuliakan semua tamu dari semua kalangan, baik dari kalangaan rakyat jelata hingga pejabat. Sehingga pantas saja, bila semua rakyat Indonesia bersedih. “Memperlakukan siapa saja dengan mulia, ini yang harus kita teladani dan kita tiru dari Mbah Maimun. Beliau menerima tamu dari semua kalangan, yang baik dan yang tidak baik, yang santri dan tidak santri semua disambut dengan baik, tanpa membeda-bedakannya” kata Gus Mus.

Kepergian Mbah Mun pada dasarnya menjadi keresahan bagi Gus Mus. Karena dengan diambilnya beliau, maka Allah mengambil ilmu pula dari dunia. “Allah mengambil ilmu dari dunia ini dari Mbah Mun. Beliau itu punya segudang ilmu. Belum usai 40 hari Mbah Mun wafat, diambil lagi ilmu sains dan teknologi dengan wafatnya mantan Presiden BJ Habibie,” sambung Gus Mus.

KH Abdul Ghofur Putra Mbah Mun, yang hadir dalam acara ini juga turut memberikan sambutan. Ia menyampaikan terima kasih atas acara yang telah diselenggarakan. Ia menambahkan, Gus Mus sangat dekat dan merupakan sosok yang ada di hati Mbah Mun.

Gus Ghofur mengungkapkan, sosok ayahanda Mbah Mun merupakan sosok yang mempunyai segudang pengalaman dan sederhana. Tak terlepas dari pekerjaan untuk menafkahi keluarga. “Abah itu pernah berjualan sapi di Pasar Sedan. Pengalaman hidupnya banyak sekali, tapi yang paling ia sukai adalah ngaji,” ujar Gus Ghofur.

Sementara itu sangat cintanya kepada masyarakat, putra-putranya, termasuk Gus Ghofur kadang merasa cemburu, karena sulit sekali mencari waktu Mbah Mun untuk sekadar mengobrol atau bersama keluarga. “Sekarang saya baru sadar kenapa begitu, ternyata abah itu milik orang banyak,” Ujarnya.

Kegiatan ini dihadiri juga oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin beserta istri, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah, Farhani berserta istri, Kakankemenag Kabupaten Rembang, Atho’illah beserta jajaran pejabatnya, serta staf Kemenag RI, Kanwil Kemenag Jateng dan Kemenag Rembang.

Acara dengan tema mengenang kyai Bangsa ini juga launcing Buku Antologi puisi Bersama dan menampilkan para penyair dari berbagai wilayah di Indonesia dan grup musik Islam, Laila Majnun dari Semarang.