Fany, Pemuda yang Tekun di Pertanian

Fany, Aktif mengembangkan dunia pertanian dengan budidaya. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Rembang – Nama lengkapnya Ihtifazhuddin, panggilan sehari-harinya adalah Fany, Pemuda Kelahiran Rembang 24 Agustus 1995 ini adalah jebolan mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang Fakultas pertanian jurusan Agro bisnis. Dari kecil sudah diajarkan mandiri oleh keluarganya, seperti sekolah di SMP Pati, SMU N 1 Pati. Lingkungan sekitar mengenalnya dengan pemuda yang kerja keras dan total di dunia pertanian.

Fany sekarang tinggal di desa krikilan, Sumber. Jiwa pertaniannya muncul karena dorongan orang tua dan keinginan pribadi yang kuat sesuai dengan disiplin ilmunya.

Motivasi saya bertani adalah ingin belajar mandiri, tidak tergantung dengan orang tua. Sejak kuliah ia bercerita sudah belajar mandiri dengan cara menjual sirup buah kawis (minuman khas asli daerah Rembang) dan menjual kecap di lingkungan kampus, Ujarnya.

Di tanah seluas 7100 m2  melon tersebut ditanam. Saat ditanya kenapa memilih budidaya buah melon, alasannya karena masa atau jangka waktunya lebih pendek, yaitu kurang lebih 65 hari. Buah melon yang ditanamnya saat ini berjenis Golden, kalau kemarin jenisnya rock melon (sakata), Ucapnya.

Beberapa bahan yang diperlukan untuk bertani melon, menuutnya antara lain : plastik mulsa, polibag, bibit, pupuk, lanjaran (kayu/bambu). Untuk pupuk biasanya menggunakan Urea, NPK, Phonska, ZA, Ndolomit.

Tips Merawat Buah Melon

Dilakukan pemeliharaan rutin dan telaten setiap hari tahapanya adalah penjarangan, penyulaman,penyiangan, pengairan, pemupukan dan penyemprotan pestisida untuk mengatasi hama dan penyakit di atas. Saat penjarangan atau memilih buah,dipilih yang bagus (halus dan baik) dan dibiarkan satu tanaman 1 buah tujuannya agar tumbuhnya maksimal.

Hama dan penyakit yang sering menyerang biasanya jamur dan serangga, sehingga untuk mengatasinya perawatan, pemeliharaan harus intensif (tidak boleh telat), menurutnya selama proses pertumbuhan selama 2-3 hari harus disemprot dengan obat jamur dan serangga. Hampir setiap hari minimal ada 6 tenaga kerja yang menangani.

Saat panen biasanya dijual sendiri ke Jogjakarta, Jakarta, dan ada juga yang disemarang. Untuk harga perkilo nya Rp 9.000,- biasanya bobot minimal 1,5-2,5 Kg. Saat panen pertama kemarin kurang lebih 15.000 ton, Ucapnya. Untuk modal pertama yang dibutuhkan kurang lebih 70 Juta, sedangkan untuk yang periode kedua separuhnya, karena bahan-bahan yang dari tanaman awal masih ada, Contoh lanjaran/ bambu, polibag dan lain-lain.

Untuk tahun ini ia memilih jenis melon golden, karena lebih menjanjikan, tetapi juga ada spesifikasi / standar yang diminta oleh supplier, seperti tingkat kemanisan harus 10 dan standart minimal berat melon 1,5 kg.

Mimpi kedepan yang dicita-citakan adalah punya banyak mitra dalam bertani melon dan bisa di eksport hasil panen buah melonnya. Terakhir ia juga mengajak pemuda untuk berani bermimpi dan tidak takut serta tidak gengsi terjun dalam dunia pertanian, Ucapnya.