Anthony Van Dicky, Mengembangkan Budaya Daerah Rembang dengan Karnival

Tony bersama siswanya saat berada di sanggar seni MAN 2 Rembang (Foto: Dwi Hindarto).

Rembang – Melestarikan budaya daerah dapat dilakukan dengan banyak cara, Tony salah satunya yang aktif melahirkan ide-ide kreatif, ide tersebut ia tuangkan dalam desain kostum karnival berbahan dasar batik lasem. Lahir di Pemalang, 28 Maret 1984, ia adalah seorang pendidik. Sekarang berdomisili di Desa Kedung Mulyo Kecamatan Lasem – Rembang. Istrinya yang bernama Muflikhah juga seorang guru bahasa jawa di MTs N 1 Rembang dulu dikenal dengan MTs N Lasem.

“Sejak SD sampai SMU, saya sering mengikuti lomba lukis dan menjuarai berbagai lomba tingkat Kabupaten,” Ungkapnya.

Pak Tony demikian siswa-siswi memanggilnya, sewaktu kecil sudah menyukai bidang seni. Saat kecil sekolah di SD N 4 Kebojongan Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang, Kemudian SMP N 1 Comal, SMU N 1 Petarukan Kabupaten Pemalang dan Kuliah di UNNES Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Seni Rupa.

Masuk Kuliah angkatan 2002 dan menjadi lulusan tercepat diangkatannya jurusan Seni Rupa pada saat itu, Kenangnya.

Tahun 2009 memutuskan pindah ke Rembang dan mengajar mata pelajaran Seni Budaya di MAN 2 Rembang, yang dulu bernama MAN Lasem.

Tahun 2014, ia mengikuti lomba Kreanova, kreanova adalah sebuah komunitas yang mengapresiasi setiap inisiasi yang kreatif dan inovatif dari setiap warga dan mendapatkan prestasi juara II tingkatan guru yang diselenggarakan Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Kabupaten Rembang.

Tony mengungkapkan Sebelum pindah di Lasem-Rembang, ia sempat mengajar di SMP N 4 Comal pada Tahun 2007-2009 dan pernah membimbing FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) sampai tingkat Provinsi.

Kembangkan Budaya Lokal Batik lasem

Latar belakang pemilihan batik tulis lasem sebagai pembuatan, desain kostum carnival menurutnya adalah karena keinginan untuk mengangkat budaya daerah. Intinya sesuai dengan ciri khas identitas Rembang yaitu Batik Tulis Lasem, Ucapnya.

Tema tema yang diangkat dan di tuangkan dalam bentuk kostum carnival antara lain wayang, budaya daerah, motif ikan karena rembang kota pesisir, Latohan yang menjadi khas Rembang- Lasem.

Selain mengajar, pak toni juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah yaitu desain grafis, dengan karya seperti kaos, mug, pin dan lain-lain, Ekstra Teater. Ekstra dilaksanakan tiap hari selasa dan rabu.

Di rumah pak toni juga membuat cat warna Acrylic dan menyewakan serta membuat kostum carnival karyanya sendiri. Mimpi atau keinginan dari pak toni kedepannya adalah memiliki sanggar seni sendiri di Lasem.

Menurutnya, Budget yang dibutuhkan untuk membuat 1 kostum carnival adalah 2 juta, alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain: Batik lasem, Spon hati, Lem, Besi atau baja ringin dan lain-lain.

Even yang pernah diikuti antara lain: Acara hari ulang tahun listrik sedunia tahun 2017 di PLTU Sluke Rembang, Lasem Festival, Metamorfosa Batik Tulis Lasem yang diselenggrarakan PEMKAB Rembang, dan berbagai acara-cara lain seperti Agustusan, haul dan lain-lain.

“Tujuan dari kegiatan merancang dan membuat kostum batik carnival, menurutnya adalah membekali dan melatih siswa untuk berwirausaha, karena biasanya mendekati even-even anak –anak sering juga mendapat pesanan dari luar,” Ucapnya.