Sri Yunarmi, Satu Dekade Upayakan Kesejahteraan Petani Rembang

TERUS BERGERAK – Sri Yunarmi dalam Pertemuan Kelompok Tani Sido Mukti Desa Landoh, awal tahun 2018. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Sulang, REMBANGDAILY.COM ** Tanpa lelah, ia mendampingi lusinan kelompok tani. Persis satu dekade, Sri Yunarmi berupaya keras mendongkrak kesejahteraan petani di Kabupaten Rembang. Kesederhanaan, ketekunan, dan kesungguhannya kini berbuah prestasi membanggakan.

Di wilayah Bulu pada 2016, Kelompok Wanita Tani (KWT) Ayu, Desa Pasedan, Kecamatan Bulu mewakili Kabupaten Rembang dalam Lomba Ternak Unggas jenis ayam joper (Jawa Super) tingkat Provinsi Jawa Tengah. Hasilnya, KWT Ayu meraih Juara 1. Sekarang, KWT Ayu tengah menempuh persiapan untuk maju dalam lomba serupa, tingkat nasional.

Bermula tahun 2014, anggota KWT Ayu yang berjumlah 30 orang mampu meningkatkan populasi ternak ayam joper, dari 500 ekor yang didatangkan dari Jawa Timur seharga Rp5.000 per ekornya, menjadi 2000 ekor.

“Untuk (Kecamatan) Sulang, nama kelompoknya, TAR. Tahun lalu, juga Juara 1 Provinsi dan juara nasional”.

Dari kecil, Yunarmi memang bercita-cita menjadi Sarjana Pertanian, perempuan kelahiran 25 Maret 1983 ini ayahnya adalah mantan Sekretaris Desa dan petani di Desa Kunir. Sementara ibunya, seorang petani pula.

“Saya tertarik di pertanian dari dulu, mungkin karena saya anak petani,” tuturnya.

Sejak SD sampai SMP, Yunarmi selalu mendapat Peringkat Tiga Besar. Bahkan saat SMU, ia mendapat Peringkat Satu. Ia lalu memutuskan untuk kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Fakultas Pertanian Program Studi Agronomi, demi mengejar mimpinya. Saat wisuda, IPK-nya 3,71. Fantastis, bukan?

Pada 2008, hingga 2017, Yunarmi bekerja bersama Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Sulang sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Memasuki 2018, ia bekerja untuk BPP Kecamatan Bulu.

“Tugas Penyuluh yaitu mendampingi petani dalam segala kegiatan pertanian, yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dalam bekerja, PPL tidak terbatas waktu dan hari kerja, tergantung petani membutuhkan kita. Kapan pun itu, tergantung dari jadwal. Kalau pertemuan rutin jadwalnya malam atau hari libur, ya kita tetap penyuluhan,” terangnya bersemangat.

Selama ini, Yunarmi beranggapan bahwa petani merupakan partner atau mitra kerjanya. Pengalaman berharga yang tak terlupakan menurutnya adalah saat melewati jembatan kecil dari bilah bambu, serta menyeberangi sungai bersama-sama petani.

Potensi Kecamatan Sulang dan Kecamatan Bulu

Lebih dalam, Yunarmi mengungkapkan potensi Kecamatan Sulang sebagai daerah penghasil padi, jagung, tebu, dan tembakau. Sementara itu, Kecamatan Bulu potensial menghasilkan padi, jagung, dan tembakau.

“Untuk jagung, di Kecamatan Bulu punya potensi lebih tinggi. Hambatan petani biasanya adalah hama dan penyakit tanaman. Untuk saat ini, hambatannya adalah curah hujan yang rendah,” paparnya detail.

Mengatasi hal tersebut, sambungnya, PPL bersama Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) menganalisis dan mengobservasi lapangan untuk membuat rekomendasi, langkah-langkah mengatasi hama dan penyakit tanaman.

Yunarmi mendampingi 11 Kelompak Tani di 3 desa Kecamatan Sulang, serta 8 kelompok di 2 desa Kecamatan Bulu. Di Desa Landoh Kecamatan Sulang, ia mendampingi Kelompok Tani Langgeng Tuntunan, Mukti Tani, Sumber Tani, Sumber Rejeki, Sido Mukti, dan satu Kelompok Wanita Tani (KWT) Langgeng Tuntunan.

Kelompok tani lainnya di Desa Bogorame Kecamatan Sulang, yakni Sido Makmur, Tani Makmur, dan Tani Maju. Terakhir, Desa Pranti Kecamatan Sulang adalah Kelompok Tani Sido Mulyo, Sido Dadi, dan Sumber Maju

Untuk Kecamatan Bulu, Yunarmi mendampingi kelompok tani di Desa Lambangan Kulon, yaitu Sumber Makmur, Sumber Rejeki, Sumber Urip, dan KWT Bunga Harapan. Di Desa Waru Gunung, Kelompok Tani Tani Mulyo, Suka Maju, Suka Maju II, Waru Sari, dan Gunung Sari.

KARNAVAL – Sri Yunarmi (depan paling kanan) dalam karnaval bersama Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Yunarmi mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang yang telah memperhatikan petani dengan cara memberikan bantuan, berupa benih dan sarana-prasarana lainnya. Di samping itu, bimbingan berupa pelatihan-pelatihan kepada petani.

“Sekarang, rata-rata pengolahan tanah sudah menggunakan Alsintan (alat mesin pertanian—red). Sudah mulai menggunakan benih berlabel. Sistem pemupukan juga sudah menggunkan pupuk berimbang. Untuk mengolah tanah buat tanam padi, pakai traktor. Kalau buat guludan (pematang—red) pakai cultivator. Alat mesin pertanian bantuan dari pemerintah banyak. Untuk panen, ada yang sudah menggunakan combine, disesuaikan dengan kondisi lapangan,” ucapnya.

Ia memberi saran kepada para petani untuk mempertahankan kesuburan tanah dengan memperhatikan penggunaan pupuk yang sebaiknya mengurangi penggunaan pupuk kimia maupun pestisida kimia, serta diganti dengan pupuk organik dan pestisida organic.

Untuk memutus siklus hama dan penyakit, lanjutnya, petani harus mengganti tanaman maupun varietas.

“Misal, antara Tanam Padi Musim Tanam (MT) 1 dengan MT 2 diganti varietas. Atau kalau terbiasa menanam varietas tertentu selama berulang-ulang, harus diganti varietas lainnya,” jelas Yunarmi.

Aktivis Desa

Tidak hanya aktif di pertanian, Yunarmi juga aktif pada kegiatan desa. Ia mendapat amanah sebagai Pengurus Kelompok Kerja (Pokja) III Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kecamatan Sulang. Pokja 3 membidangi urusan sandang pangan dan papan atau tata laksana rumah tangga.

“Kenapa Pokja 3? Karena bisa bermitra kerja dengan instansi atau Dinas Pertanian, sesuai dengan basic keilmuan saya,” katanya.

Yunarmi kini hidup berbahagia di Desa Kunir Kecamatan Sulang. Ia dinikahi seorang anggota TNI pada Desember 2009. Sang suami berdinas di KODIM Brebes.