Mohamad Shodikin, Bangun Rembang dengan Berdagang Kerupuk Keliling

BERSAHAJA – Mohamad Shodikin, bersama anak dan tumpukan kerupuk hasil produksinya. (Foto: Dwi Hindarto)

Sulang, REMBANGDAILY.COM ** Ia tamatan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tauhidiyah Pomahan. Belajar dari home industry tempat ia bekerja di Jakarta, ia bertekad dan bertekun membangun usahanya sendiri. Satu dekade berlalu, usahanya sukses menembus pasar, hingga ke luar Kabupaten Rembang. Mari mengenal lebih dekat Mohamad Shodikin, seorang pedagang kerupuk keliling.

Dikin, demikian para tetangga biasa memanggilnya. Ayah dua anak ini menceritakan perjalanan panjang kisah hidupnya, sebelum menuai sukses seperti sekarang. Lulus MTs, karena faktor ekonomi, pria kelahiran Rembang, 7 November 1983 tersebut, memilih bekerja, dan tidak melanjutkan pendidikan pada jenjang selanjutnya.

“Ayah dan ibu saya adalah petani. Pada usia 16 tahun, setelah lulus sekolah MTs, saya mengadu nasib di Ibu Kota, Jakarta, untuk mencari pekerjaan dan pengalaman,” ujar Dikin, beberapa waktu lalu, di kediamannya.

Pada 1999, ia bekerja untuk home industry kerupuk di Jakarta.

“Saya di Jakarta hampir 2,5 tahun. Kemudian akhir tahun 2002, saya pindah bekerja ke Grobogan, tepatnya Desa Kejawan Kecamatan Tego Wanu dan bekerja di home industry kerupuk juga,” kisahnya.

Ketika itu, tiap hari, Dikin mulai berjualan keliling memakai sepeda motor dan menitipkan kerupuk dagangannya ke warung-warung. Berbekal kemampuan dagangnya menjual kerupuk, pada 2004, saat usianya menginjak 21 tahun, Dikin pun menikah.

“Saat di Grobogan, saya masih tinggal bersama mertua, dari tahun 2004 sampai tahun 2010. Kemudian tercetuslah ide awal untuk membuka home industry kerupuk di Rembang. Hal ini dilatarbelakangi dari rasa tanggung jawab menjadi kepala keluarga untuk menambah penghasilan, sehingga kelak bisa menjadi penjual kerupuk keliling yang terus berkembang dan cenderung tidak stagnan,” kenangnya.

Kembali ke Sulang

Memasuki tahun 2011, Dikin memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Desa Pomahan Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang.

“Awal mula merintis usaha saya di Rembang, dari kecil-kecilan, mulai dari pemrosesan penggorengan, pembungkusan, pemasaran dilakukan secara sendiri semuanya. Belum mempunyai karyawan. Jadi intinya, dikerjakan sendiri dan dijual sendiri,” paparnya penuh semangat.

Tahun 2012, kerupuk dagangan Dikin mulai diminati banyak konsumen, sehingga proses dan pembungkusannya dibantu oleh 5 orang. Sedikit demi sedikit, usaha kerupuknya pun mulai berkembang pesat. Sejak 2012, kerupuk produksi Dikin mulai merambah wilayah luar daerah, hingga Juwana Pati, Blora, Jatirogo Tuban, dan wilayah-wilayah di perdesaan sekitar.

Kerupuk yang diproduksi Dikin beraneka ragam. Ada kerupuk bandung, kerupuk rambak, kerupuk gedhek, dan lainnya. Kerupuk bandung saja memiliki banyak varian, mulai rasa manis, rasa pedas rasa asin, dan pedas manis.

“Sekarang, dalam sehari, kapasitas produksi saya mampu mengolah 30 sampai 40 ball atau pack (dengan) 1 ball atau pack beratnya adalah 5 Kg,” ungkap Dikin.

Tidak lupa, ia memberikan saran atau kiat bagi para pebisnis pemula. Pertama, sabar dan tekun, atau dalam Bahasa Jawa, telaten terhadap usaha yang dikerjakan. Kedua, bekerja keras dan pantang menyerah. Ketiga, berdoa.

“Masalah modal, bisa sambil berjalan dan seadanya dulu saja. Masalah modal sedikit-sedikit tidak apa-apa, tapi dikelola atau diatur dengan baik,” tuturnya.

Salah satu hal yang dapat diambil sebagai pelajaran dari kisah Dikin adalah semangat dan kerja kerasnya. Meskipun sekarang telah sukses dengan berbagai fasilitas yang dimiliki, seperti rumah, mobil, dan lain-lain, Dikin tetap masih turut berjualan keliling setiap hari, tepatnya di Pasar Pamotan.

“Kalau tidak capek, tiap pagi saya tetap berjualan keliling, Mas. Supaya badan tetap fresh dan pikiran tidak jenuh,” pungkasnya simpatik.