Ahmad Nizam Sofruloh, ASN Dishub yang Peduli dengan Pendidikan

REFRESHING – Ahmad Nizam, pada waktu liburan santai. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Rembang, REMBANGDAILY.COM *** Ahmad Nizam Sofruloh. Anak terakhir dari 10 bersaudara, kelahiran Rembang 6 Januari 1980 ini tinggal di Desa Leteh RT 1 RW 3, Genengrejo, Rembang. Ia diterima sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada tahun 2012 di Dinas Perhubungan (Dishub) Tuban dan bertugas di bagian penguji kendaraan bermotor.

Nizam, biasa ia disapa, pernah dinobatkan sebagai penguji kendaraan bermotor terbaik se-Jawa Timur pada tahun 2015. Kariernya dimulai ketika tahun 2002 ia bekerja di Bengkel Indah Motor Jakarta. Tahun 2004 ia banting setir dengan mengambil pendidikan akta IV dan mengajar di SMK Muhammadiyah Piyungan, Bantul.

Tahun 2005, Nizam memutuskan kembali ke kampung halamannya dan mengajar di SMK NU Lasem yang kemudian diamanahi sebagai Kepala Jurusan (Kajur) Teknik Kendaraan Ringan (TKR). Pada tahun 2009 sampai 2011 ia juga “nyambi” mengajar program keahlian di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kejar Paket C Lasem.

Meskipun sudah menjadi ASN, Nizam tetap gigih mengajar. Senin sampai Jumat di bekerja di Dishub Tuban, kemudian Sabtu dan Minggu mengajar di SMK NU Lasem. Ia berpendapat transfer ilmu atau mengajar itu harus ikhlas dengan hati karena potensi masing-masing anak berbeda-beda.

“Potensi anak itu bagaikan kertas putih, jadi tergantung dari kita mau memberi warna putih atau merah. Karena pada dasarnya para siswa itu mempunyai potensi. Jadi walaupun kemampuan awalnya kurang bagus, bisa kita tingkatkan dengan pendekatan dan keseriusan,” ungkap Nizam belum lama ini.

Ia melanjutkan, yang penting anak harus dilatih atau diasah terus menerus dengan penanaman kedisiplinan dan skill. Menurutnya, saat masa pubertas, anak-anak harus diberi pendampingan ekstra agar mampu memahami kondisi. Sehingga dibutuhkan ilmu pendidikan yang baik serta tenaga pendidik yang mumpuni.

“Ke depan karena basis industri semakin besar, maka idealnya kurikulum pendidikan juga harus disesuaikan dengan konsep kurikulum industri. Sudah saatnya sekolah menciptakan sekolah yang diminati industri. Misalnya kelas Toyota, kelas Honda, maka kurikulumnya idealnya matching dengan kelas tersebut,” ungkap Nizam.