Fanny Alhusin, Cinta Matematika Hingga Menjuarai Beberapa Olimpiade

KUTU BUKU – Fanny Alhusin rajin menulis, membaca disela-sela aktivitas mengajar di kampus (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Lasem, REMBANGDAILY.COM*** Sejak duduk di bangku sekolah Taman Kanak-kanak (TK), Fanny Alhusin sudah senang pelajaran berhitung. Meskipun kala itu usianya baru 5 tahun, dan bahkan belum lancar membaca.

Fanny awalnya bercita-cita menjadi peneliti, guru dan dosen. Waktu SMP sempat menyukai ilmu astronomi, kemudian sejak SMU mulai ikut berbagai event atau lomba. Ia pernah menjadi juara harapan 3 olimpiade tingkat Kabupaten Rembang dan juara 3 siswa teladan Kabupaten Rembang.

Saat kuliah di Unnes Semarang, Fanny juga pernah menjadi juara 2 dalam ajang Adu Potensi Orang Matematika (Apotema) dan juara 1 story telling di Pondok Pesantren Durrotu Ahlusunnah wal Jamaah di Banaran yang 99% santrinya adalah mahasiswa.

Fanny adalah putri pertama dari 6 bersaudara. Ia memang dikenal sebagai kutu buku dan cerdas. Ayahnya adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan ibunya perajin tempe dan menerima katering pesanan.

Lulus kuliah, Fanny mengajar di SMP NU Lasem, SMK NU Lasem, MA NU Lasem, serta MAN Lasem. Saat menjadi guru, ia kembali berprestasi dengan meraih juara 3 olimpiade guru tingkat Kabupaten Rembang kategori SMP tahun 2013, kemudian menjadi finalis lomba guru inovatif yang diselenggarakan oleh Unnes untuk guru tingkat SMU, MA, dan SMK.

Tulisannya Fanny juga ada yang dimuat di jurnal dengan judul “Mathematical Litercy’s Vocational Students Based On Logical and Numerical Reasoning” atau kemampuan literasi matematika siswa SMK ditinjau dari penalaran logis dan numerik.

Saat lulus S1 IPK-nya 3,61 dan lulus S2 IPK-nya 3,83. Kini, cita-cita Fanny untuk menjadi pengajar sudah tercapai. Ia sekarang dipercaya menjadi dosen matematika di IAIN Ponorogo dengan konsentrasi mengajar Statistika 2 atau Statistika Penelitian.

“Motto hidup saya adalah berusaha pantang menyerah, menggarap indahnya PR surga. Saya masih bercita-cita untuk melanjutkan studi ke luar negeri, seperti Jerman, Italia, atau Belanda,” ujar Fanny belum lama ini.

Punya Bimbel

Di rumahnya Lasem, Rembang, Fanny juga memiliki lembaga bimbingan belajar (bimbel) dengan nama Omah Beres. Ia juga membuka jasa olah data skripsi maupun tesis, data penelitian kuantitatif maupun kualitatif, dan translation Inggris ke Indonesia atau sebaliknya.

Di lingkup sosial, Fanny aktif di sejumlah kegiatan, seperti mengajar ngaji dan mengisi les di panti asuhan, serta mengikuti Istighosah Khodijah di Lasem.

Sebelum mengakhiri percakapan, Fanny berbagi tips belajar matematika yaitu dengan logika dan titen memperhatikan langkahnya dengan seksama kemudian dipraktikkan sendiri di rumah. Ia juga minta agar diulang kembali dengan mencari soal setipe namun yang lebih sulit. “Usahakan jika guru masih di bab 1, maka kita sudah sampai bab 2 atau lebih. Belajar sendiri malah lebih bagus, nanti di sekolah tinggal menambah yang kurang,” ucapnya.