Sodikin, Programmer Asli Sulang Berportofolio Nasional

ISTIQOMAH – Sodikin di tengah aktivitas teknologi informasi. (Foto: Dwi Hindarto)

Sulang, REMBANGDAILY.COM ** Dunia maya lebih mengenalnya dengan sebutan Chung Chin. Bersahaja, pekerja keras, dan pembelajar sepanjang hayat. Ia berhasil membangun aplikasi ujian yang telah digunakan sekolah-sekolah di eks-Karesidenan Pati dan Provinsi Bali. Nama aslinya sangatlah singkat, Sodikin.

Lahir di Desa Karang Harjo, Kecamatan Sulang, 9 Agustus 1981, Sodikin kini mengampu banyak sekali tugas mulia. Ahli networking dan pemrograman ini mengajar di SMK NU Lasem dan STIMIK HIMSYA Semarang.

Berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan komputer pernah ia lakoni, di antaranya Pengolah Data pada Statistic Analysis Consultant (SAC), trainer komputer, guru Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) dan Multimedia SMK NU Lasem, administrator Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) pada Information and Communication Technology (ICT) Center Rembang, serta guru Teknik Komputer Jaringan (TKJ) SMK Negeri 1 Rembang.

Bahkan sekarang, ia dipercaya menjadi Tim Teknologi Informasi untuk Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (MKKS-SMK) Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Kabupaten Rembang. Ia pernah pula menjadi juri Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Networking di Blora.

Bagi kalangan teknologi informasi di Rembang, namanya tidak asing lagi. Karya terkenalnya, yakni aplikasi ujian, membantu sekolah-sekolah dalam menyongsong UNBK. Tidak heran pula bila dengan segudang pengalaman yang dimiliki, Sodikin pun mendapatkan Juara III Guru Berprestasi Tingkat SMK se-Kabupaten Rembang.

“Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat menuntut adanya wadah atau komunitas sebagai wadah transfer pengetahuan dan berbagi antar-sesama,” ujarnya mantap, beberapa waktu lalu, di kantornya, SMK NU Lasem.

Menurutnya, perkembangan teknologi informasi di Rembang telah cukup pesat. Namun sayangnya, para personel teknologi informasi belum bisa saling mendukung satu sama lain dan cenderung individualis.

Padahal, sambungnya, Rembang sebenarnya memiliki sumberdaya manusia sangat potensial. Tetapi, belum adanya pengarahan atau kurikulum yang mendukung ke sana (baca: ke arah kebutuhan global), perkembangan teknologi informasi pun terhambat.

“Sebagai contoh, Corel harusnya untuk tingkatan SMK disesuaikan dengan perkembangan dunia industri atau kebutuhan pasar, tidak semata-mata formalitas pelaksanaan kurikulum saja. Akibat hal tersebut, banyak anak-anak yang belajar sendiri, baik dengan cara kursus atau otodidak,” ucap Sodikin.

Ia berpesan, generasi muda yang hendak belajar teknologi informasi hendaknya berkenan sharing dan belajar pada kalangan ahli.

“Jangan belajar sendiri. Karena, makin banyak sharing makin banyak ilmu yang didapatkan,” ungkapnya.

Berbakti pada Daerah Kelahiran

Sehari-harinya, Sodiki seperti tidak pernah terlepas dari laptop. Kesibukannya mengajar, berpadu padan dengan belajar dan belajar, serta terus sharing dengan teman sesamanya. Karena itulah, prinsip hidupnya. Sebuah jatidiri yang dapatkan dari pendidikan orangtua dan perjalanan hidupnya selama ini.

Saat SD, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Lasem. Ia kemudian melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 1 Lasem, berlanjut ke SMU Negeri 1 Lasem. Awalnya, Sodikin berkeinginan mondok di pesantren. Namun, karena ada tawaran kuliah ia pun kuliah D3 Statistika dan Komputasi di Universitas Negeri Semarang.

Kisah perjalanan hidupnya pun tidak semulus yang tampak. Setelah lulus D3, Sodikin sempat mengadu nasib ke Semarang dengan mencari pekerjaan yang sesuai disiplin ilmunya. Lama kelamaan, ia berkeputusan untuk kembali ke kota kelahirannya, dan mengajar di SMK NU Lasem. Ketika itu, sambil mengajar, ia kuliah S1 dan lulus pada 2007.