Perdalam Pertanian dan Pemasaran, SMK Muhammadiyah Gunem Kunjungan Industri ke Jogja

Founder dan owner Dluwang Art, Briane Novianti Syukmita, memberi penjelasan kepada siswa SMK Muhammadiyah Gunem Rembang Jurusan Pemasaran. (Foto: Arif Giyanto)
ANTUSIAS – Founder dan owner Dluwang Art, Briane Novianti Syukmita, memberi penjelasan kepada siswa SMK Muhammadiyah Gunem Rembang Jurusan Pemasaran. (Foto: Arif Giyanto)

Yogyakarta, REMBANG DAILY ** Sabtu (1/10/2016), SMK Muhammadiyah Gunem bertandang ke Yogyakarta, dalam rangka Kunjungan Industri. Bertepatan dengan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, kunjungan dimaksudkan untuk memperluas cakrawala kewirausahaan (entrepreneurship), khususnya pertanian dan pemasaran.

“Rombongan berangkat dari Gunem pada Jumat tengah malam kemarin. Kami berjumlah sekitar 50-an orang dan mengendarai 1 unit bus. Sempat transit di Masjid Agung Jawa Tengah pada dini harinya, kami tiba di Yogyakarta, sekitar pukul 09.00 pagi,” ujar Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah Gunem, Mustafsiroch.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Desa Panggungharjo adalah Juara I Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Nasional 2014 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Rombongan diberi paparan tentang pengelolaan potensi desa melalui peran BUMDes. Salah satunya, mengolah sampah menjadi biogas menjadi pupuk organik.

Lurah Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi, menjadi narasumber utama. Ia juga seorang wirausahawan berprestasi. Melalui sentuhannya, Desa Panggungharjo kondang di seluruh Indonesia. Selain mengandalkan kompetensi dan akuntabilitas, desa ini sangat memedulikan pendidikan dan lapangan pekerjaan bagi warganya.

BIOGAS - Siswa-siswa SMK Muhammadiyah Gunem Rembang Jurusan Pertanian mendengarkan penjelasan dari perwakilan BUMDes Panggungharjo Sewon Bantul, tentang pengelolaan sampah menjadi biogas. (Foto: Arif Giyanto)
BIOGAS – Siswa-siswa SMK Muhammadiyah Gunem Rembang Jurusan Pertanian mendengarkan penjelasan dari perwakilan BUMDes Panggungharjo Sewon Bantul, tentang pengelolaan sampah menjadi biogas. (Foto: Arif Giyanto)

Rombongan berkesempatan melihat langsung tempat pembuangan sampah (TPS) milik desa, tempat biogas diproduksi dalam skala besar. BUMDes juga bekerja sama dengan berbagai rekanan untuk mengembangkan bisnis tersebut. Secara berkala, ada pesanan pupuk organik yang harus mereka penuhi. Ada pula kerja sama pembukaan lahan pertanian beras sehat dengan zero pestisida.

Usai makan siang, rombongan menuju titik kunjungan selanjutnya di kawasan Gamping, Sleman. Kali ini, PT Natural Nusantara (NASA) mempresentasikan keberhasilan mereka dalam menyulap lahan kritis dan mati di pesisir Pandansimo, serta dijadikan lahan pertanian potensial. Materi penjelasan PT NASA berkaitan erat dengan materi kunjungan ke Desa Panggungharjo.

Home Industry

Sore harinya, Kunjungan Industri SMK Muhammadiyah Gunem sampai di home industry, Dluwang Art, usaha kerajinan pengolahan limbah kertas koran dan majalah bekas, di Ledok Tukangan DN 2/257 Yogyakarta. Rombongan diterima founder dan owner Dluwang Art, Briane Novianti Syukmita.

“Awalnya, kami melihat banyak kertas koran dibiarkan bertumpuk-tumpuk, tanpa diolah. Dari situ kami melihat peluang usaha yang cukup besar. Di sini kami dapat mengolah dan dapat memberikan nilai lebih terhadap kertas koran, majalah, serta tabloid bekas tersebut. Produk-produk yang dihasilkan Dluwang dijamin keawetan dan ketahanannya terhadap air. Kami memiliki formula anti-air yang membuat koran tidak dapat mudah robek jika terkena air,” terang Novi.

Dluwang bermula dari pemasaran online serta sebatas mulut ke mulut. Saat ini, Dluwang telah memiliki dua orang kepercayaan yang menangani produksi. Selain itu, bisnis berkategori Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tersebut bekerja sama dengan sekitar 30 pengrajin di desa binaan di daerah Seyegan, di mana rata-rata pekerjaan warga di sana adalah petani.

“Ada beberapa produk kami yang sudah diekspor ke Amerika. Hal ini membuktikan bahwa produk kami dapat diterima oleh pasar dan mampu bersaing dengan produk-produk berbahan mendong, enceng gondog, gedebog pisang, dan lainnya,” ungkapnya.

Menjelang Magrib, rombongan mengakhiri kunjungan dan berpamitan. Menutup kunjungan, para siswa dipersilakan berjalan-jalan di Jalan Malioboro hingga pukul 20.00. Setelah itu, rombongan kembali ke Gunem, dengan banyak harapan dan inspirasi membangun daerah sendiri.