Bersejarah dan Miliki Kultur Jawa-Tionghoa, Kantor Berita Xinhua Rilis Eksotisme Lasem

Poskamling Karangturi Lasem berdekorasi Tionghoa dan Muslim. (Foto: Xinhua)
Seorang santri melintas di depan Poskamling Karangturi Lasem berdekorasi Tionghoa dan Muslim. (Foto: Xinhua)

Beijing, REMBANG DAILY ** Baru-baru ini, salah satu Kantor Berita Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Xinhua, merilis eksotisme Lasem. Dengan bangga, Xinhua turut menegaskan Lasem sebagai Tiongkok Kecil. Bukan hanya bersejarah, Lasem dipandang sarat dengan nilai-nilai keragaman dan religiusitas.

Sekira 4-6 April 2016, jurnalis Xinhua berburu foto dan informasi tentang Lasem. Tampak foto seorang santri putra tengah melintasi Poskamling dengan dekorasi kaligrafi Tionghoa dan Muslim. Ada pula foto pentas tarian tradisional Jawa beriring gamelan di Lawang Ombo. Tak ketinggalan, aktivitas para pengrajin Batik Lasem yang terus mempertahankan keaslian motif, di tengah gempuran batik printing.

Kantor berita yang berdiri sejak 1931 tersebut juga menampilkan Klenteng Cu An Kiong dan aktivitas warga Tionghoa berusia senja. Pertanda Lasem memiliki sejarah tua tentang masuknya etnis Tionghoa ke Nusantara berabad-abad lalu.

Rilis Xinhua tentang Lasem tentu bukan tanpa alasan. Berbagai sumber, baik paling mutakhir hingga yang paling jarang dijumpai, banyak memuat sejarah masuknya Tionghoa di Lasem, berikut kontribusi dan kolaborasi mereka bersama penduduk asli.

Iqbal Rizaldin, sejarahwan alumnus Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam tulisannya berjudul ‘Lasem sebagai Melting Pot: Kehidupan Sosial Etnis Tionghoa’ mencatat, komunitas Tionghoa Muslim di Lasem terbentuk sebelum abad ke-17.

“Lebih banyak dipengaruhi oleh simpul-simpul perdagangan yang terjalin antara pedagang-pedagang Tionghoa dengan masyarakat pribumi di daerah Nanyang (Laut Selatan),” tutur Iqbal.

Ia menjelaskan, terbukanya Pelabuhan Lasem bagi perdagangan membuat banyak pedagang Tionghoa memilih untuk menetap di kota ini. Mereka inilah yang kemudian membangun permukiman-permukiman awal di sekitar Kali Babagan.

“Mereka hidup di perkampungan, layaknya penduduk pribumi Lasem dan melakukan perkawinan dengan perempuan lokal sebagai bentuk pembauran. Relasi yang terjalin pada saat itu pun tidak hanya sebatas perdagangan, melainkan juga pada sosio-kultural, seperti pertukaran budaya dan keterampilan maritim,” paparnya.

Proyek Kebudayaan

Setelah kembali tampil sebagai negara adidaya di dunia, RRT mulai menebar pengaruh di seluruh dunia, tak terkecuali pada proyek kebudayaan. Konsul Jenderal RRT, Yu Hong, saat bertemu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Selasa (31/3/2015), menyampaikan niat RRT untuk mendirikan pusat pendidikan dan lembaga kebudayaan Tiongkok di Yogyakarta.

Ketika meninjau Pusat Pengembangan Budaya Islam-China di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Jalan Gajahraya Semarang, Februari 2016, Yu Hong berjanji akan mengatur waktu agar bisa melihat langsung suasana akulturasi budaya dan agama di Lasem.

Selain menempatkan Kedutaan Besar, RRT juga memiliki Konsulat Jenderal di Surabaya, Medan, dan Denpasar.