2016, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Kabupaten Rembang Rp12 Miliar

Sebagian petani padi Rembang yang beralih menjadi petani tembakau. (Foto: AMTI)
Sebagian petani padi Rembang yang beralih menjadi petani tembakau. (Foto: AMTI)

Rembang, REMBANG DAILY ** Pada 2016, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Kabupaten Rembang mencapai Rp12 miliar, atau meningkat sekitar Rp2,3 miliar dibandingkan 2015 yang hanya Rp9,7 miliar.

“Oleh karena itu, pengelolaan DBHCHT harus terus dievaluasi agar semakin besar nilai manfaatnya bagi masyarakat dalam mendukung ekonomi kerakyatan,” ujar Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto membacakan sambutan Bupati Rembang Abdul Hafidz, saat membuka Sosialisasi Ketentuan di Bidang Cukai Kabupaten Rembang Tahun 2016, di Hotel Fave Rembang, Kamis (2/6/2016), dirilis Pemkab Rembang.

Ia menjelaskan, penggunaan dana tersebut telah diarahkan untuk mendanai kegiatan tertentu, seperti diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 28/PMK.07/2016 tentang penggunaan dan evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.

“Saya berharap agar penggunaan dana DBHCHT ini dapat disinergikan dengan SKPD terkait dalam upaya pencapaian indikator kinerja kabupaten maupun dinas. Dan perlu saya sampaikan pula pelaksanaan kegiatan ini hendaknya tetap mematuhi rambu-rambu yang telah diatur dan senantiasa mengkonsultasikan dengan provinsi dalam penyusunan termasuk pelaporan pelaksanaannya,” terangnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bagian Perekonomian, Gantiarto, mengungkapkan, dana cukai meningkat karena Rembang termasuk daerah penghasil cukai dengan adanya pabrik IHT yakni PT Djarum SKT Rembang dan penghasil bahan baku atau tembakau. Luas lahan tembakau pada 2015 mencapai 2.900 Ha dengan jumlah produksi tembakau 5.800 ton.

Sosialisasi mengundang narasumber dari Biro perekonomian Setda Provinsi Jawa Tengah, Koswara, dengan materi Sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan No. 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemantauan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.

Selain itu, Zaini Rasidi dari Kantor Pengawas dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai Kudus dengan materi Sosialisasi Ketentuan di Bidang Cukai.

Hadir pula Dedy Kusmayadi dari PT Sadana Arif Nusa dengan materi Pola Kemitraan Dalam Rangka Peningkatan Produksi dan Kualitas Tembakau di Kabupaten Rembang.

Peserta sosialisasi berasal dari SKPD pengelola DBHCHT, dinas atau intansi terkait, camat se-Kabupaten Rembang, koordinator Petugas Penyuluh Pertanian di kecamatan, manajemen IHT/pabrik rokok, serta perwakilan kelompok tani tembakau dan pedagang rokok.

Luas Tanam Menurun

Wilayah Kabupaten Rembang memiliki jenis iklim tropis dengan suhu maksimum tahunan sebesar 33°C dan suhu rata-rata 23°C, dengan bulan basah selama 4 sampai 5 bulan. Selebihnya, termasuk kategori bulan sedang sampai kering. Curah hujan di Kabupaten Rembang termasuk sedang, yaitu rata-rata 502,36 mm per tahun. Dengan kondisi iklim tersebut, tanaman tembakau cukup ideal apabila ditanam di Kabupaten Rembang.

Meski demikian, pada 2015, target luas tanam tanaman tembakau 2500 hektar, atau menurun 500 hektar bila dibandingkan dengan 2014. Pasalnya, salah satu pembeli tembakau di Rembang, PT. Sadana Arifnusa, fokus menaikkan kadar nikotin tanaman tembakau.

Ketika itu, Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BKPP4K) Kabupaten Rembang memerintahkan penyuluh pertanian untuk mendampingi para petani tembakau, agar kebutuhan pupuk tanaman tembakau tidak menganggu pupuk bersubsidi. Karena, untuk komoditas tembakau, pupuknya tidak disubsidi oleh pemerintah.

Teknis yang harus ditaati oleh petani tembakau, antara lain kalender sebar dan tanam, jarak tanam, pemupukan dan toping (punggel).