Responsif Persoalan Keumatan, Muscab II PCPM Pamotan Dorong Prioritaskan Ranting

Muscab II PCPM Pamotan. (Foto: PCPM Pamotan)
Muscab II PCPM Pamotan. (Foto: PCPM Pamotan)

Pamotan, REMBANG DAILY ** Banyaknya persoalan keumatan yang harus segera direspons, proses musyawarah organisasi Muhammadiyah, sebaiknya diprioritaskan pada tingkat terkecil untuk kemudian direkomendasikan pada tingkat di atasnya, hingga ke pusat.

Hal tersebut mengemuka saat digelar Musyawarah Cabang (Muscab) Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Pamotan, Jumat (25/3/2016), di Kesekretariatan Bersama PKU Muhammadiyah Pamotan.

“Tujuan Muscab ini adalah kritik membangun pada beberapa hal terkait teknis birokasi di Pemuda Muhammadiyah yang perlu ditinjau ulang. Di antaranya proses musyawarah yang saat ini dari atas ke bawah; Muktamar sampai ke Musran,” ujar Ketua PCPM Pamotan, M. Zaky Wahyuddin Azizi.

Menurut Zaky, proses musyawarah seharusnya terbalik, karena banyak hal yang dapat digali dari bawah, sehingga dapat menjadi rekomendasi ke atas.

“Selama ini, yang terjadi di lapangan, banyak yang di bawah, vakum. Bahkan tak ada, karena tak ter-back-up persoalan-persoalan di bawah. Banyak di cabang-cabang yang tidak punya ranting, karena musyawarah tertinggi diawali dari pusat, sehingga terpusat di atas,” tandas pegiat ekonomi keumatan tersebut.

Padahal, sambungnya, proses keumatan di akar rumput menjadi akar perumusan gerakan persyarikatan.

“Banyak rekomendasi yang akan dibawa sesuai kondisi yang dihadapi. Kepemimpinan persyarikatan juga diharapkan lebih maksimal,” tutur Zaky.

Ia mengungkapkan, Musda dan Muscab yang telah diselenggarakan tidak diikuti dengan penyelenggaraan Musran. Karena biasanya, Musran sangat jarang diformalkan. Sebagian besar Ranting bahkan tidak eksis.

Lebih lanjut, Zaky menjelaskan, apabila pertanggungjawaban dimulai dari bawah, syarat-syarat terbentuknya Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang akan terukur. Karena, ketentuan pada AD/ART menyebut, harus ada tingkat pimpinan di bawahnya secara kuantitas minimal.

Dengan begitu, sambungnya, akan dapat dinilaim mana Daerah yang bisa dikatakan Daerah dan mana Cabang yang masih dapat dimasukkan dalam kategori Cabang. Dengan cara ini, akan lebih mengakarkan Muhammadiyah hingga tingkat terbawah.

“Kalau contoh di Rembang, Pemuda Muhammadiyahnya saja tidak punya Ranting, tentunya di daerah lain pun sangat memungkinkan kualifikasi Cabang dengan tanpa Ranting,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta itu.

Periode Kedua

Zaky juga memberi keterangan tentang logo bertuliskan angka 2 pada Muscab kali ini. Jajaran sesepuh Muhammadiyah Pamotan mempertanyakan hal tersebut, karena keberadaan PCPM Pamotan telah lebih dari dua kepengurusan.

“Angka 2 ditujukan untuk menata dokumentasi sejarah. Penyelenggaraan Muscab PCPM Pamotan baru dilaksanakan 2 kali, meski sebenarnya pergantian kepengurusan sudah lebih dari 2 kali,” ungkapnya.

Muscab PCPM Pamotan, paparnya, diselenggarakan pertama kali pada kepengurusan Ali Akhyar yang kini menjabat Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM). Sementara kali ini adalah penyelenggaraan Muscab PCPM Pamotan yang kedua.

“Bukan berarti kami tidak mengakui kepengurusan yang lain. Langkah ini kami ambil seperti zamannya Khalifah Umar bin Khatab dalam penanggalan Hijriah. Perkembangan Islam tentunya tidak terlepas dari Makkah, namun penanggalan Islam baru dimulai di Madinah,” jelas Zaky.

Posisi angka 2, lanjutnya, juga merupakan Masa Madinah bagi PCPM Pamotan yang mulai berani tampil dalam gerakan. Periode sebelumnya dapat dimaknai sebagai Masa Makkah atau masa fondasi pergerakan.

“Periode Muscab ini dan selanjutnya diharapakan menjadi periode, sebagaimana zaman Islam awal dulu, yakni periode kebangkitan dan ekspansi berbagai kebaikan,” kata Ayah berputra tiga ini.

Muscab II PCPM Pamotan juga dianggap janggal, karena mendahului Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM). Kaidah AD/ART menyebutkan, pelaksanaan Muscab diadakan setelah Musda.

“Bila dikatakan melanggar AD/ART, kami akui. Namun, bila dijabarkan jauh maka akan jadi banyak pelanggaran. Misal, dalam periodesasi kepengurusan Pemuda Muahammadiyah itu hanya 4 tahun, tapi kenyataannya sudah 5 tahun lebih berjalan, karena harus menunggu adanya Musda yang belum diadakan,” ujar Zaky.

Terkait keberadaan Cabang yang harus memiliki 3 Ranting di bawahnya, sementara PCPM Pamotan tidak memiiki satu ranting pun, menurut Zaky, tidaklah masalah.

“Muscab ini memiliki misi untuk menjadi sebuah kritik membangun ke depan. Bisa dibahasakan, hanya metode yang berbeda. Kalau menurut umum, 2+2 = 4, tapi kami punya formulasi, 2+2= 3+1. Jadi, akan sama ketika dilihat esensi kebaikan yang dituju,” pungkasnya.

Panitia Muscab II PCPM Pamotan, M. Ika Iqbal Fahmi, menambahkan, ketidaklaziman penyelenggaraan Muscab memang disadari.

“Sebenarnya, munculnya Muscab ini telah menjadi pertanyaan dari kalangan Muhammadiyah Rembang, ketika kami mengagendakannya akhir Februari dan akhirnya mundur di akhir Maret,” ucap Ika.

Produktif dan Fresh

Sekretaris PCPM, Kemal TC, berpandangan, PCPM Pamotan ke depan akan diisi oleh kaum muda yang benar-benar produktif dan fresh, sehingga dapat berinovasi dan bergerak lebih idealis.

“Kami mengarahkan kepengurusan ke depan memang dari orang-orang yang umurnya lebih muda, yaitu di bawah 30 tahun, sehingga energik dan benar-benar mampu melakukan sebuah perubahan yang lintas kemapanan. Artinya, idenya gila atau luar biasa. Pemuda itu harus beda, kalau enggak beda, bukan pemuda. Yang lain pakai peci, ia tidak pakai peci. Yang lain pakai batik, ia pakai kaos. Itu namanya pemuda. Harus di luar logika umum dalam menelurkan solusi umat dalam kemaslahatan,” harapnya.

Muscab II PCPM Pamotan dimulai pukul 15.30 dan berakhir 19.30. Forum menghasilkan kepengurusan baru melalui voting. Ketua terpilih adalah Gunadi, Bagus sebagai Sekretaris, dan Ahmad Mulyadi sebagai Bendahara.

One thought on “Responsif Persoalan Keumatan, Muscab II PCPM Pamotan Dorong Prioritaskan Ranting

Comments are closed.