Andalkan Pariwisata, Saatnya Mindset Marketing Wisata Rembang Berubah

KREASI FESTIVAL - Festival Buah yang diselenggarakan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Selasa (23/2/2016), adalah salah satu upaya mendatangkan wisatawan. (Foto: Humas Pemkab Rembang)
KREASI FESTIVAL – Festival Buah yang diselenggarakan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Selasa (23/2/2016), adalah salah satu upaya mendatangkan wisatawan. (Foto: Humas Pemkab Rembang)

Rembang, REMBANG DAILY ** Diperlukan perubahan mindset marketing wisata daerah, untuk mendongkrak kunjungan wisatawan. Pada masa kepemimpinan Bupati Abdul Hafidz, Rembang menempatkan sektor pariwisata sebagai sektor andalan pemberdayaan ekonomi.

“Kami mulai menjajaki beberapa investor guna mendukung pengembangan pariwisata. Salah satunya diarahkan bagaimana membuat fasilitas kereta gantung antara Pasujudan Sunan Bonang-Makam Sultan Mahmud di Jejeruk Bonang- Binangun. Calon investor disebutkan sudah ada. Tinggal mematangkan persiapan dan menyesuaikan rencana tata ruang wilayah (RTRW)-nya,” papar Bupati, Rabu (24/2/2016).

Dirilis Humas Pemkab Rembang, Bupati menandaskan, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Kabupaten Rembang sebagai SKPD pengampu, harus menyiapkan diri.

Pelaksana Tugas Kepala Dinbudparpora Kabupaten Rembang, Muntoha, mengungkapkan, pihaknya berencana menggabungkan wisata religi Bonang, Pantai Caruban Lasem, Pantai Karangjahe Rembang, dan Kawasan Pecinan Lasem menjadi suatu kawasan pariwisata yang maju.

Hal yang harus disiapkan terlebih dahulu adalah soal sumberdaya manusia. Menurutnya, tidak harus melakukan penambahan personel lulusan pariwisata, namun yang terpenting adalah mengubah mindset pegawai yang ada dan memiliki persamaan visi untuk memajukan pariwisata Rembang.

“Masalah menambah atau tidak ini tinggal Struktur Organisasi dan Tata Kerja nanti. Kalau menurut saya, yang ada saat ini sudah cukup. Perlu ada penyegaraan di dalam organisasi Dinas Pariwisata. Sebetulnya, tidak harus spesifik sarjana pariwisata, yang penting memiliki mindset bagaimana bisa menjual pariwisata,” jelas Muntoha.

Hal penting kedua, sambungnya, adalah infrastruktur. Muntoha menilai, masih banyak yang harus ditata.

“Jika infrastruktur pendukung obyek wisata baik maka wisatawan akan merasa lebih nyaman. Dan ini membutuhkan waktu yang lama, tidak cukup satu atau dua tahun selesai,” katanya.

Tahun ini, pihaknya berencana menata Kawasan Binangun dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari tingkat pusat sebesar Rp2,5 miliar, meliputi pembuatan tempat istirahat, taman, dan deretan kios cinderamata.

“Jika bupati setuju, akan segera digarap. Selain itu, area Makam RA Kartini juga memperoleh kucuran Bantuan Provinsi Jawa Tengah Rp1,5 miliar, untuk penataan parkir dan akses jalan,” pungkas Muntoha.

Riset Potensi Wisata Rembang

Ada beberapa rekomendasi menarik hasil riset Satria Nur Aziz Rahman berjudul ‘Analisis Potensi Obyek Wisata Pasujudan Sunan Bonang, Pantai Binangun Indah, Pantai Caruban, dan Klenteng Thian Siang Sing Bo di Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang’ terbitan Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 2013.

Obyek wisata di Kecamatan Lasem Rembang yang mempunyai potensi tertinggi adalah Pasujudan Sunan Bonang dan Pantai Binangun Indah, disusul Kelenteng Thian Siang Sing Bo dan Pantai Caruban yang berpotensi sedang.

“Untuk arah pengembangan Pasujudan Sunan Bonang lebih dikembangkan untuk Penambahan Museum Sunan Bonang yang berisi gambar, peninggalan-peninggalan, cerita dan sejarah dari Sunan Bonang, serta adanya pemutaran film napak tilas sejarah Sunan Bonang, sehingga dapat menambah daya tarik dan kualitas obyek,” tulis Satria.

Selain itu, penambahan fasilitas Gardu Pandang untuk menikmati pemandangan laut dari atas bukit.

Selanjutnya, menurut Satria, Pantai Binangun Indah lebih baik dikembangkan untuk pusat wisata kuliner Sea Food, ditambah promosi obyek melalui segala macam alat publikasi, seperti media cetak, media audio, audio visual, dan internet.

“Penambahan atraksi wisata berupa kegiatan-kegiatan tertentu untuk menarik wisatawan, seperti kegiatan lomba memancing, sedekah laut, dan lain-lain. Penambahan papan atau plangkat obyek wisata untuk lebih memperkuat status obyek sebagai obyek wisata. Penambahan pihak pengelola yang jelas, sehingga obyek wisata dapat terawat dan terinventaris dengan baik,” jelas Satria.

Sementara untuk Pantai Caruban, dapat dikembangkan pengelolaan yang jelas, sehingga dapat terorganisasikan dengan baik. Selain itu, perencanaan Tata Ruang yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan.

“Penambahan fasilitas pendukung wisata berupa toilet yang memadai, tempat parkir yang memadai, tempat ibadah, toko suvenir, warung makan, taman terbuka. Penambahan atraksi wisata air berupa permainan air, seperti waterboom, banana boat, dan lain-lain,” katanya.

Satria merekomendasikan Klenteng Thian Siang Sing untuk mempromosikan obyek melalui alat publikasi serta penambahan fasilitas penunjang seperti penginapan bagi para pengunjung dari luar daerah.

Pusat Observatorium Bulan

Beberapa titik strategis di Kabupaten Rembang juga potensial menjadi lokasi Pusat Observatorium Bulan (POB). Pasalnya, topografi Rembang sangatlah lengkap, yaitu daerah pantai, dataran rendah, dataran tinggi, dan pegunungan.

“Di Rembang banyak lokasi strategis yang bisa dikembangkan menjadi lokasi rukyatul hilal,” ujar Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab dan Rukyat Kementerian Agama Republik Indonesia, Ahmad Izzuddin, dalam laman Kemenag, Rabu (3/12/2014).

Lokasi strategis tersebut adalah Bukit Tengkeng di Desa Pomahan Sulang, Bumi Perkemahan Karangsari Park di Desa Sudo Sulang, Bukit Rakitan di Desa Rakitan Sluke, Pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Desa Tasikagung Rembang, Pantai Binangun Indah di Desa Bonang Lasem, Pasujudan Sunan Bonang di Desa Bonang Lasem, dan Menara Hotel Fave di pusat Kota Rembang.

“Sebenarnya, secara teknis, tempat yang paling bagus dan mempunyai potensi keberhasilan rukyah sangat tinggi adalah di Bukit Tengkeng Pomahan. Hal ini kami buktikan ketika melakukan rukyah rutin bulanan selain Ramadhan dan Syawal, ternyata juga sering berhasil,” terang Ahmad.

Sayangnya, akses lokasi menuju Bukit Tengkeng Pomahan sangat sulit dijangkau dengan kendaraan, karena di tengah hutan milik Perhutani. Selain keamanan yang sangat kurang, menurut Ahmad, akses jalan ke lokasi pun rusak dan berbukit-bukit.

“Tiga lokasi lain yang cukup potensial dan strategis untuk lokasi rukyatul hilal adalah Pantai Binangun Indah, Pasujudan Sunan Bonang, dan Menara Hotel Fave,” tutur Ahmad.

Ahmad menjelaskan, tiga lokasi tersebut bisa menjadi pusat pembelajaran bagi dunia pendidikan dan pariwisata Kabupaten Rembang. Bila perencanaan ini berhasil, akan menjadi ikon di pantai utara Jawa Tengah.

“Setidaknya bisa bermanfaat untuk berbagai keperluan. Sebagai sarana untuk praktik melihat arah yang tepat pada benda langit bagi yang berkepentingan,” ucapnya.

Tempat observasi dapat digunakan untuk mengamati peristiwa-peristiwa penting, misalnya Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari dan juga benda langit lain.

“Untuk menunjang fasilitas POB, perlu dilengkapi dengan proyektor planetarium mini, seperti kepunyaan Planetarium Jakarta, dan mobile observatory, sebagai wahana edukasi bagi pelajar dan masyarakat,” saran Ahmad.