Surplus 730 Ton, Petani Desa Joho Kecamatan Sale Tolak Impor Beras

TOLAK IMPOR BERAS - Penjabat Bupati Rembang, Suko Mardiono, turut dalam panen raya padi hibrida di Desa Joho, Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang, Jumat (20/11/2015). (Foto: Humas Pemkab Rembang)
TOLAK IMPOR BERAS – Penjabat Bupati Rembang, Suko Mardiono, turut dalam panen raya padi hibrida di Desa Joho, Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang, Jumat (20/11/2015). (Foto: Humas Pemkab Rembang)

Sale, REMBANG DAILY ** Dari target 249.267 ton, prakiraan realisasi produksi padi untuk kabupaten Rembang hingga Desember dapat mencapai 249.997 ton. Artinya, ada surplus 730 ton. Untuk itu, petani Desa Joho Kecamatan Sale Kabupaten Rembang menolak kebijakan impor beras.

“Panen kali ini adalah masa tanam ketiga (MT3). Di wilayah ini, irigasinya bagus dan ditunjang sumber air dari Sumber Semen. Dan di MT3 inilah yang menjadi andalan para petani setempat,” ujar Ketua kelompok Tani Petani Maju Desa Joho, Joko Susilo, saat panen raya padi hibrida, Jumat (20/11/2015), dirilis Pemerintah Kabupaten Rembang.

Ia menjelaskan, luas lahan 25 hektar dengan bantuan program Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP2TT), hasil panen padi hibrida jenis pioner PP3 sangat luar biasa. Menurut Joko, apabila dibanding dengan padi hibrida biasa, hampir melebihi 60 persen.

“Dalam program GP2TT, petani mendapatkan bantuan benih, bantuan tanam jajar-legawa, pupuk, dan obat-obatan. Dan keuntungan bersih yang didapat petani per hektar rata-rata Rp43 juta lebih,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Kabupaten Rembang, Suratmin, menambahkan, program GP2TT dialokasikan di tiga kecamatan, yakni Sale, Kaliori, dan Pamotan, masing-masing 500 hektar. Setiap hektarnya mendapatkan Rp3,6 juta untuk kebutuhan benih hingga pestisida petani.

“Petani di Sale ini cukup beruntung. Pasalnya, cuaca pas dan minim gangguan hama. Ditambah lagi harga jual di pasaran cukup tinggi, yakni per kilogram Rp4.300 sampai Rp4.500. Jauh di atas Harga Pokok Penjualan (HPP) yang ditentukan pemerintah Rp3.700,” kata Suratmin.

Setahun Tak Impor Beras

Setahun terakhir, pemerintah tidak mengimpor beras. Sesuatu yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan mengapresiasi kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) yang telah berjuang meningkatkan produksi pangan, khususnya beras, di seluruh Indonesia.

Dirilis Kementan, pada perayaan Hari Pangan Sedunia di Sumatera Selatan, Wapres mengatakan bahwa pangan merupakan salah satu komoditas strategis yang menjadi perhatian pemerintah. Wapres JK menegaskan, kekurangan pangan berpotensi menimbulkan konflik di berbagai wilayah Indonesia. Karena itu, pasokan dan stabilitas harga pangan mutlak harus dijaga dan diperhatikan.

Salah satu solusinya, jelas JK, adalah meningkatkan produksi dengan teknologi. JK optimis, dengan pembagian alat-alat mesin pertanian, seperti traktor, power trasher, combine harvester, transplanter, dan bibit unggul, peningkatan produksi pangan bisa tercapai.

“Muncul tantangan baru, dengan peningkatan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 300 juta jiwa dalam kurun waktu 10 tahun sampai 15 tahun ke depan. Jumlah penduduk yang naik sekitar 20 persen ini dibarengi dengan peningkatan volume konsumsi pangan. Padahal, dalam waktu bersamaan, lahan sawah akan berkurang karena sebagian digunakan sebagai tempat tinggal,” pungkasnya.