Belajar Regulasi Garam Beryodium, Pemkab Tabanan Bali Kunjungi Rembang

PENGEMBANGAN - Rencana Pengembangan Tambak Garam Rembang oleh Kementerian Pekerjaan Umum 2013. (Foto: Kementerian PU)
PENGEMBANGAN – Rencana Pengembangan Tambak Garam Rembang oleh Kementerian Pekerjaan Umum 2013. (Foto: Kementerian PU)

Rembang, REMBANG DAILY ** Sejak lama, Kabupaten Rembang dikenal sebagai daerah penghasil garam berskala besar, selain Cirebon, Indramayu, Demak, Pati, Surabaya, Sampang, Sumenep, dan Kota Bima. Karena itulah, Pemerintah Kabupaten Tabanan Provinsi Bali melakukan studi banding ke Kabupaten Rembang.

“Pemkab Rembang telah melaksanakan kegiatan pengendalian peredaran garam tidak beryodium diawali dengan Peraturan Daerah Kabupaten Rembang Nomor 9 Tahun 2003 tentang Pelarangan dan Pengendalian Peredaran Garam Tidak Beryodium yang telah mengalami berbagai perubahan,” ujar Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang, Hari Susanto, saat menerima kunjungan, dirilis Pemkab Rembang.

Ia mengatakan, hingga sekarang, pihaknya terus melaksanakan Perda tersebut dan mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi, bahkan hingga Pemerintah Pusat.

“Awalnya ini, di samping inisiatif, juga didukung peran UNICEF saat masih berada di Rembang,” jelas Hari.

Pemerintah Kabupaten Tabanan Provinsi Bali dipimpin Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda, Wayan Yatnanadi. Menurut Wayan, latar belakang studi banding adalah kondisi cakupan konsumsi garam beryodium di Kabupaten Tabanan yang tergolong rendah, demikian juga dengan Provinsi Bali.

Ia berharap, dengan kunjungan ini, pihaknya dapat belajar, sejauh mana perlindungan terhadap penggunaan garam beryodium di Kabupaten Rembang dari segi regulasi. Selain itu, Pemkab Tabanan ingin mengetahui langkah-langkah penerapan regulasi garam.

“Kabupaten Tabanan juga memiliki wilayah yang memproduksi garam, meski untuk konsumsi sendiri. Diharapkan, dengan studi banding ini dapat belajar dalam produksi garam skala industri,” ucap Wayan.

Usai paparan dan tanya jawab, rombongan beserta Tim Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) dan Penegakan Hukum (GAKKUM) Kabupaten Rembang mengunjungi produksi garam di Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori.

Tujuh Besar Nasional

Dalam Laporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2014, jumlah produksi garam di Rembang mencapai 141.943,13 ton, dengan pendapatan rata-rata petambak garam Rp15.677.804 per musim.

Angka ini lebih rendah dibanding Cirebon 314.480 ton, Indramayu 311.187 ton, Sumenep 292.051,54 ton, Pati 287.997 ton, Sampang 256.540,1 ton, dan Kota Surabaya 156.220,76.

Harga garam yang masih naik turun di pasaran sangat mempengaruhi pendapatan petambak garam. Masalah utama, belum adanya penetapan harga garam di pasar oleh pemerintah; kewenangan Kementerian Perdagangan.

Petambak garam mulai diperkenalkan pada teknologi produksi garam, seperti teknologi ulir filter, geomembran, dan proses pasca-produksi, seperti pengolahan pemutihan dan penghalusan garam, mendorong petani untuk menghasilkan garam dengan kualitas yang lebih baik, sehingga dapat menaikkan harga jual garam.