Dorong Pengembangan Batik Lasem, STIE YPPI Rekomendasikan Empat Model Rantai Suplai

BERSEJARAH - Sentra Batik Lasem di Desa Babagan. (Foto: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah)
BERSEJARAH – Sentra Batik Lasem di Desa Babagan. (Foto: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah)

Rembang, REMBANG DAILY ** Termasuk potensi unggulan Kabupaten Rembang, Batik Lasem mendapat perhatian khusus dari kalangan akademisi. Tim Peneliti Hibah STIE YPPI merekomendasikan empat model rantai suplai Batik Lasem.

“Dari hasil kuisioner penelitian didapatkan empat model rantai suplai yang efisien untuk pengembangan batik tulis Lasem,” ujar Ketua Tim Peneliti Hibah Bersaing, Muhammad Tahwin, saat Focus Group Discussion (FGD) tentang Supply Chain Model Pengembangan Usaha Kecil Menengah Batik Lasem, beberapa waktu lalu di Kampus STIE YPPI Rembang.

Ia menjelaskan, model pertama adalah bahan baku, pengusaha, dan konsumen. Model kedua, yaitu bahan baku, perantara, pengusaha, dan konsumen. Model ketiga, yakni bahan baku, pengusaha, perantara, dan konsumen. Sementara model keempat adalah bahan baku, perantara, pengusaha, perantara, dan konsumen.

Ketua STIE YPPI tersebut berharap, dengan paparan empat model rantai suplai yang efisien untuk pengembangan batik tulis Lasem, pengusaha bisa mendapatkan model yang tepat untuk usaha masing-masing.

Pada kesempatan sama, kalangan akademisi, perwakilan mahasiswa, pengusaha, dan masyarakat yang hadir, mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Rembang untuk membuat peraturan pemakaian Batik Lasem. Dengan peraturan itu, diharapkan penjualan Batik Lasem akan semakin berkembang.

“Peraturan yang mewajibkan PNS, pegawai swasta di berbagai instansi, serta unsur pendidikan di Kabupaten mengenakan batik tulis Lasem cukup penting. Selain untuk melestarikan Batik Lasem, peraturan itu juga akan meningkatkan produksi Batik Lasem,” papar Keynote Speaker FGD, Siti Aliyah, dirilis STIE YPPI.

Menurutnya, dengan mewajibkan pemakaian batik tulis Lasem dapat meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap salah satu produk unggulan Kabupaten Rembang.

“Selain peraturan, agar memiliki daya saing, industri batik juga membutuhkan pengelolaan internal maupun eksternal. Hubungan baik antara supplier, pelanggan, dan perusahaan harus dijaga,” pungkasnya.

Bersejarah

Layaknya batik pesisiran, warna Batik Lasem tampil beragam, berbeda dengan batik pedalaman yang didominasi warna gelap (coklat). Lasem memiliki batik dengan ciri pesisiran dan pedalaman yang sangat tersohor,yakni Batik Tiga Negeri. Disebut Tiga Negeri karena batik ini memadukan 3 unsur warna yang mewakili 3 daerah. Merah untuk Lasem, Biru untuk Pekalongan, dan Soga (Coklat) untuk Solo.

Dirilis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah, bagi Anda yang ingin belajar sekaligus berbelanja batik bisa datang ke showroom sekaligus workshop batik yang banyak terdapat di Desa Babagan, Lasem. Dengan harga bervariasi mulai dari Rp100 ribu, pengunjung dapat membeli batik tulis Lasem.

Keistimewaan Lasem lain ada pada sejarah kota. Bangunan-bangunan kuno berarsitektur khas Tiongkok banyak dijumpai di kawasan ini. Bangunan yang cukup terkenal di Lasem adalah Lawang Ombo di Jalan Dasun, seberang Desa Babagan. Lawang Ombo pernah digunakan sebagai setting lokasi film Ca Bau Kan.

Tepat di belakang Lawang Ombo terdapat klenteng yang dibangun pada 1450 dan merupakan klenteng tertua. Jalan Dasun bersebelahan dengan Sungai Bagan atau Kali Lasem yang digunakan sebagai jalur kapal- kapal dagang pada masa lalu.

Tak jauh dari Desa babagan, persis di pinggir jalan utama, terdapat Masjid Jami dengan arsitektur khas akulturasi Tiongkok dan Jawa. Di sebelah masjid, berdiri Pondok Pesantren Kauman. Berkunjung ke Lasem memberi kesan harmoni keragaman.