Menilik Jejak Sejarah Pamotan dari Bangunan-bangunan Lama

CAGAR BUDAYA - Bekas Rumah Dinas Kawedanan Pamotan yang masih terlihat kokoh. (Foto: M Zaky WA)
CAGAR BUDAYA – Bekas Rumah Dinas Kawedanan Pamotan yang masih terlihat kokoh. (Foto: M Zaky WA)

Pamotan, REMBANG DAILY ** Perkembangan sebuah daerah tidak terlepas dari potensi-potensi kemajuan yang ada di zaman sebelumnya. Kemajuan di zaman sebelumnya inilah kemudian memaksa lahirnya tuntutan laju kebutuhan masyarakat yang harus dicukupi sebagai upaya terciptanya kehidupan yang diidam-idamkan.

Dulu, Kecamatan Pamotan sebenarnya hanya sebuah daerah yang ditinggali beberapa penduduk. Seiring waktu laju aktivitas penduduk, Pamotan akhirnya berkembang.

Perjalanan Pamotan memang panjang. Konon, Pamotan merupakan pintu gerbang Majapahit yang dulu ditinggali seorang pembesar majapahit sekelas panglima, bernama Jayeng Pamot. Pamotan sendiri diambil dari namanya.

Sedikit banyak, keberadaan Jayeng Pamot berpengaruh pada berdirinya Desa Pamotan yang sampai saat ini cukup diperhitungkan di wilayah Rembang, bahkan di tataran nasional. Terbukti telah banyak tokoh nasional yang berkunjung ke Pamotan.

Beberapa peninggalan terdahulu sebuah cermin tersendiri bahwa Pamotan merupakan daerah yang memiliki daya tarik cukup kuat. Beberapa peninggalan yang sekarang rusak dimakan usia dan sisanya juga dihancurkan karena tuntutan pemanfaatan lahan, seperti pabrik Gula, Pabrik Piring, bahkan pabrik senjata pernah ada di Pamotan.

Bangunan-bangunan itu didirikan pada zaman Belanda. Hal tersebut menunjukkan bahwa Pamotan merupakan wilayah yang dianggap penting pada zaman Belanda dalam hal pengelolaan pemerintahan.

Sisa bangunan yang masih terlihat cukup kokoh adalah Kostin. Sebuah bangunan yang berdiri tinggi seperti menara ini ada tiga buah di wilayah timur Pamotan, berdekatan dengan gunung kapur. Bangunan ini disinyalir sebagai bangunan pemantau wilayah, atau mercusuar untuk istilah sekarang. Namun meski masih ada, Kostin tidak terawat, bahkan terancam hancur, karena di sekitarnya dekat dengan tempat pembakaran gamping manual.

KOSTIN - Menara pantau yang dibangun pada zaman Belanda masih berdiri tegak di Pamotan. (Foto: M Zaky WA)
KOSTIN – Menara pantau yang dibangun pada zaman Belanda masih berdiri tegak di Pamotan. (Foto: M Zaky WA)

Selanjutnya, Stasiun Kereta Api yang tidak terpakai. Dulu, Pamotan merupakan jalur penghubung antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Sejak tidak aktifnya jalur kereta api menjadikan banyaknya sarana jalur kereta yang tidak terurus.

Rel kereta dijarah serta lahan PJKA yang dimanfaatkan untuk perumahan menjadikan stasiun tak terurus dan terlupakan. Bangunan stasiun saat ini terlihat tak terawat, bahkan sebagian bangunan dipakai masyarakat untuk urusan rumah tangga.

Keberadaan Stasiun Kereta Api menunjukan bahwa Pamotan di zaman dahulu merupakan daerah penting, meski hanya penghubung. Pamotan bisa dianggap sebagai jalur aktivitas distribusi barang yang cukup besar bagi daerah sekitarnya.

Bangunan Eks-Kawedanan

Wilayah eks-Kawedanan merupakan salah satu tempat bersejarah tumbuh kembangnya Pamotan. Wilayah ini merupakan tempat bangunan pusat pemerintahan yang dulu ada, yaitu Perumahan Dinas Camat, Perumahan Dinas Dokter, Perumahan Dinas Kantor Wedono, dan Kantor Kawedanan.

Di samping itu, dulu ada bangunan gedung serbaguna yang digunakan acara publik, seperti pameran, pertemuan, dan hiburan masyarakat. Di sisi luar berupa lahan terbuka, yaitu distrik yang juga satu padu wilayah eks-Kawedan, dulu merupakan lahan cukup luas yang digunakan sebagai acara publik, seperti upacara, pengajian umum, lomba voli, serta lomba hari nasional atau hari besar keagamaan.

Sayangnya, bangunan fisik yang tersisa hanyalah Perumahan Wedono. Meski sekarang tak begitu utuh, bangunan Perumahan Wedono masih kelihatan layak dan kokoh. Perumahan Wedono sampai saat ini masih digunakan untuk ajang pertemuan, latihan kethoprak, dan pengajian rutin ibu-ibu.

STASIUN - Bangunan Stasiun Kereta Api di Pamotan yang mangkrak, tak terurus. (Foto: M Zaky WA)
STASIUN – Bangunan Stasiun Kereta Api di Pamotan yang mangkrak, tak terurus. (Foto: M Zaky WA)

Namun bangunan Perumahan Wedono yang bisa dikatakan bangunan kuno zaman Belanda ini rentan terus bertahan. Bangunan ini menjadi saksi sejarah bagi peradaban Pamotan yang seharusnya dicarikan solusi agar tetap ada, bahkan bisa diangkat sebagai cagar budaya Pamotan.

Bangunannya masih tetap dijaga keberadaannya, dan fungsinya boleh beralih, sehingga Pamotan dapat bercerita kepada generasi yang akan datang sebagai penopang semangat dan cita-cita para pendahulu.

Perumahan Wedono pernah diusulkan sebagai taman baca, untuk mempertahankan keberadaan bangunan.