Tergantung Pupuk Kimia, Pertanian Organik Sulit Diterapkan Serempak di Rembang

Ilustrasi Pertanian Organik. (Foto: DAAI TV)
Ilustrasi Pertanian Organik. (Foto: DAAI TV)

Rembang, REMBANG DAILY ** Masih sedikit areal pertanian di Rembang yang menerapkan cara tanam organik. Pasalnya, petani cenderung tergantung pada pupuk kimia atau anorganik.

“Di Brebes, Kadin sudah menginstruksikan pengurangan pestisida kimia, karena dampaknya pada kesehatan. Bahkan ditemukan banyak anak terkena gondok setelah diteliti. Bukan karena kekurangan yodium, tapi karena over penggunaan pestisida pada tanaman, khususnya bawang merah,” ujar praktisi pertanian, Sutrisno, kepada Rembang Daily, Senin (27/4/2015).

Menurutnya, kalau pun ada yang memulai penerapan pertanian organik, kendalanya pada pemilihan produk pupuk organik.

“Bagi petani yang punya lahan pertanian sebaiknya berhati-hati dalam memilih produk pupuk organik, baik yang padat maupun cair, karena banyak beredar produk yang tidak mengindahkan komposisi seharusnya sesuai peraturan,” terang alumnus SMAN 2 Rembang tersebut.

Ia menjelaskan, hal utama yang perlu diketahui, pupuk organik cair harus memiliki unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman, sehingga hasil produksi bisa tercapai.

Mesakke (kasihan—red) petani. Sudah beli mahal-mahal, tapi tanpa ada hasilnya. Belum lagi dengan keadaan alam, seperti gagal panen,” kata Trisno, begitu ia akrab disapa.

Praktisi pertanian, Sutrisno, tengah bersama petani cabe. (Foto: Facebook)
Praktisi pertanian, Sutrisno, tengah bersama petani cabe. (Foto: Facebook)

Praktik pertanian organik di beberapa tempat seperti Magetan, Sleman, Ngawi, pupuk organiknya tidak membeli. Mereka memproduksinya dari kotoran dan kencing ternak.

“Itu yg namanya pupuk organik padat atau kompos. Petani hortikultura sudah biasa menggunakan dan membikin sendiri. Untuk menunjang produksi, sementara tidak bisa mengandalkan kompos dan harus ditunjang dengang PPC atau POC,” jelas Trisno.

Sementara pertanian organik, sambung Trisno, adalah pertanian yang sudah tidak lagi menggunakan pupuk anorganik dan pestisida kimia.

“Makanya masih jarang petani yang sudah penerapan full organik,” ucapnya.

Swasembada Pangan

Pada 2015, Kabupaten Rembang ditarget untuk mencapai produksi padi sejumlah 249 ribu ton. Untuk mewujudkannya, pemerintah menggulirkan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu padi hibrida, jagung, dan kedelai.

Tahun ini, pemerintah pusat juga memberikan bantuan rehab jaringan irigasi seluas 3000 hektar, program optimasi lahan seluas 1300 hektar, bantuan 32 unit hand traktor dan 12 unit pompa air, serta bekerja sama dengan TNI.

Pada 2013, dari total lahan 44 ribu dihasilkan 206 ribu ton, sementara tahun 2014, hanya menghasilkan 170 ribu. Tahun ini, produktivitas padi diperkirakan mencapai 249 ribu ton.

Target yang dibebankan kepada Kabupaten Rembang untuk mendukung swasembada pangan tersebut meningkat 49 ribu ton. Target tersebut optimis bisa terpenuhi, karena ditunjang penambahan lahan Perhutani seluas 800 hektar.