Simpul Emas Segi Empat Rembang, Tata Kota Pamotan Jangan Sampai Matikan Potensi

KURANG SEDAP DIPANDANG - Pusat kota Pamotan dilihat dari sisi selatan. Tata kota mendesak dilakukan agar potensi Pamotan tidak terhambat. (Foto: M. Zaky WA)
KURANG SEDAP DIPANDANG – Pusat kota Pamotan dilihat dari sisi selatan. Tata kota mendesak dilakukan agar potensi Pamotan tidak terhambat. (Foto: M. Zaky WA)

PENGGARAPAN potensi suatu daerah tidaklah terlepas dari tata kota. Dengan tata kota yang tepat, potensi sebuah daerah akan dapat memaksimalkan potensi yang ada. Konsep tata kota tidak identik dengan dominasi areal bisnis, tapi lebih dari itu. Prasarana publik pun harus ditata, semisal sarana hiburan, sarana taman kota, sarana ruang publik untuk kegiatan sosial, dan sebagainya.

Pamotan boleh disebut sebagai Simpul Emas Segi Empat Rembang karena menghubungkan empat titik daerah strategis, yakni Rembang, Lasem, Gunem, dan Sedan. Potensi ini tentunya sebuah kelebihan karena akan banyak aktivitas masyarakat yang terhubung dari Pamotan.

Saat ini Pamotan baru mulai terlihat arah peta potensinya, terbukti mulai adanya gairah masyarakat yang membangun image peta daerah. Misal, daerah timur merupakan kompleks industri, daerah tengah sebagai pusat kota, daerah barat sebagai wilayah pertanian, wilayah utara sebagai kompleks perumahan.

Perkembangan ini tentunya harus dikawal serius untuk mendapatkan format tata kota yang tepat, baik, dan sesuai dengan potensi. Daerah tengah Pamotan, yakni pusat kota, tentunya harus bisa mewakili wajah kota, sehingga fungsi pusat Kota Pamotan dapat berjalan dengan sebenarnya. Pusat kota selalu memiliki beberapa hal yang mampu mewakili pusat kota.

Pamotan sendiri memiliki potensi besar. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya lahan yang belum tergarap penuh untuk menunjang berjalannya pusat kota, yaitu bekas pasar, bekas terminal, dan eks-Kawedanan.

Keberadaan lahan yang cukup luas bisa dijadikan pusat kota ideal. Pusat kota biasanya memiliki wadah yang cukup, paling tidak yaitu ruang sosial, ruang publik, dan ruang bisnis.

Ruang sosial pusat Kota Pamotan terwadahi oleh Masjid Al Amin, karena telah dilakukan perluasan dan pengembangan fisik yang dapat menampung umat Islam Pamotan.

Ruang Publik dalam Kota Pamotan sebenarnya telah dibangun sejak Kawedanan masih ada. Misalnya saja halaman distrik yang sejak dulu digunakan sebagai aktivitas publik, seperti upacara, hiburan masyarakat, olahraga, dan acara-acara publik lain, sedangkan ruang bisnis terwakili oleh beberapa bagunan toko milik pribadi masyarakat, kantor perbankan, dan pedagang kaki lima yang sejak lama telah berjualan di wilayah bekas terminal.

Potensi ini haruslah mampu diarahkan. Jangan sampai tata pusat Kota Pamotan ini tidak mampu bergerak, karena kurang cermatnya penempatan ruang-ruang tersebut.

Pentingnya Alun-alun

Mari menilik Kota Lasem, misalnya. Secara sederhana tampak bahwa pusat Kota Lasem belum bisa maksimal, karena masih kurangnya ruang publik. Keberadaan bekas Pasar Lama Lasem di depan masjid, terlalu didominasi ruko-ruko, sedangkan taman yang ada belum bisa mewakili kebutuhan ruang publik.

Sarana publik tidak memadai sehingga fungsi ruang bisnis dan ruang publik belum seimbang. Ruang publik Lasem kerepotan memfasilitasi momen-momen publik seperti hiburan rakyat, pengajian akbar, pentas seni, dan berbagai acara besar.

Pamotan seharusnya mulai memikirkan hal itu. Pusat kota harus bisa ditonjolkan, terutama ruang publik. Ruang publik bisa jadi sarana ruang bisnis. Misalnya, Pamotan seharusnya memiliki alun-alun, karena fungsi alun-alun memiliki banyak pemanfaatan. Bisa dipakai untuk hiburan, taman permain, olahraga, pameran, bahkan bisa jadi sarana ruang keagamaan, seperti tempat Shalat Ied, pengajian, dan yang lain.

Di samping itu, alun-alun bisa jadi ruang bisnis yang tidak permanen fisiknya, tapi dapat menghadirkan nilai ekonomi, seperti warung tenda yang hanya berjualan pada waktu-waktu tertentu, para pedagang kecil keliling atau asongan, pedagang rental mainan, dan lainnya.

Ruang bisnis pusat kota pun dapat dibangun lebih simpel, karena dengan adanya alun-alun tidak diperlukan banyak ruang bisnis berbentuk fisik, apalagi telah ada toko-toko milik pribadi masyarakat. Kalau pun perlu ada mungkin membangun ruko berbentuk lapak kecil sebagai sarana bagi pedang yang telah lama ada, sehingga bisa tertata rapi. Bisa berbentuk kluster-kluster kecil dan tertib.

Jangan sampai tata kota Pamotan tidak bisa diberdayakan. Sekali salah melangkah maka keberadaan tata kota Pamotan akan memengaruhi peradaban Pamotan yang bisa jadi tambah merosot. Semoga kita semua mampu menyelesaikan amanah ini dengan bijak, membawa Pamotan lebih berperadaban maju.

One thought on “Simpul Emas Segi Empat Rembang, Tata Kota Pamotan Jangan Sampai Matikan Potensi

  1. Tulisan yang menarik, pemberdayaan ruang publik di pamotan harus dimunculkan lagi…perangkat desa dan anak mudanya harus pro aktif berkontribusi…sayang kalau anak-anak muda hanya terkonsentrasi di warung kopi dengan obrolan ngalor-ngidul.

Comments are closed.