Metode Tanam Singgang, Panen Padi Minimal Tiga Kali dan Berhemat 30 Persen

SINGGANG - Direktur Pengelolaan Air Irigasi Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Tunggul Iman Panudju, saat meresmikan Bendung Mojokerto di Desa Mojokerto, Kecamatan Kragan, Kamis (9/4/2015). (Foto: Pemkab Rembang)
SINGGANG – Direktur Pengelolaan Air Irigasi Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Tunggul Iman Panudju, saat meresmikan Bendung Mojokerto di Desa Mojokerto, Kecamatan Kragan, Kamis (9/4/2015). (Foto: Pemkab Rembang)

Kragan, REMBANG DAILY ** Dengan Metode Tanam Singgang, petani dapat panen padi minimal tiga kali dan berhemat 30 persen dibandingkan tanam ulang. Sebab, petani tidak perlu mengeluarkan biaya olah tanah, biaya pembelian benih, dan biaya penanaman.

“Ongkos olah tanah saja sekitar Rp1,5 juta. Itu belum biaya beli benih dan ongkos tanam yang totalnya bisa mencapai kurang lebih Rp4 juta. Produksinya juga tidak berbeda dengan yang tanam ulang,” ujar Direktur Pengelolaan Air Irigasi Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Tunggul Iman Panudju, saat meresmikan Bendung Mojokerto di Desa Mojokerto, Kecamatan Kragan, Kamis (9/4/2015).

Namun, sambungnya, Metode Tanam Singgang tidak bisa dilakukan di sembarang tempat. Syaratnya, ada persediaan air cukup, seperti lahan yang ada di sekitar Bendung Mojokerto. Beberapa daerah yang telah menerapkan Metode Tanam Singgang adalah Kabupaten Ngawi seluas 35 hektar dan Kabupaten Tanah Datar, Batang Anai, seluas 400 hektar.

“(Hal) yang perlu diperhatikan oleh petani adalah saat memotong padi ketinggian 5 cm dari permukaan tanah, sehingga tunas baru yang keluar akarnya akan langsung menghujam ke tanah dan mencari makan sendiri dan menjadi tanaman baru,” terang Tunggul, dirilis Pemkab Rembang.

Selama ini, menurutnya, Metode Tanam Singgang yang dilakukan petani masih kurang tepat. Petani memotong batang padi terlalu tinggi, sehingga akar yang baru tidak bisa menghunjam ke tanah dan bergantung kepada induk maka malainya dipastikan tidak berbulir (gabuk).

Sekda Rembang, Hamzah Fatoni, menambahkan, Pemerintah Kabupaten Rembang berkomitmen memajukan pertanian Rembang, terutama peningkatan infrastruktur pertanian dalam hal ketersediaan air untuk pertanian.

Untuk itu, Pemkab akan memanfaatkan air permukaan program PPST (Program Pengembangan Sungai Terpadu), dengan membendung lima sungai besar yang ada di Rembang, seperti Sungai Randugunting di Kaliori yang sudah dibendung, dilanjutkan nanti Sungai Babagan, Sungai Karanggeneng, dan Sungai lain. Diharapkan, ketersediaan air untuk pertanian petani tercukupi.

“Kita sudah mengusulkan kepada Danrem dan Dirut agar pola pembangunan bendung bisa seperti pembangunan Bendung Mojokerto, yakni pola karya TNI dan Masyarakat,” tuturnya.

Sekda lantas menyerahkan dokumen PPST kepada Dirut untuk disampaikan ke Dirjen. Pemkab akan mengawali pembangunan PPST pada 2016, di samping mengusulkan ke Gubernur dan menunggu pendanaan dari APBN.

Hadir dalam acara, Komandan Korem (Danrem) 073/ Makutarama, Kolonel Kav Bueng Wardadi.

Target Produksi

Pada 2015, Kabupaten Rembang ditarget untuk mencapai produksi padi sejumlah 249 ribu ton. Untuk mewujudkannya, pemerintah menggulirkan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu padi hibrida, jagung, dan kedelai.

Tahun ini, pemerintah pusat juga memberikan bantuan rehab jaringan irigasi seluas 3000 hektar, program optimasi lahan seluas 1300 hektar, bantuan 32 unit hand traktor dan 12 unit pompa air, serta bekerja sama dengan TNI.

Pada 2013, dari total lahan 44 ribu dihasilkan 206 ribu ton, sementara tahun 2014, hanya menghasilkan 170 ribu. Tahun ini, produktivitas padi diperkirakan mencapai 249 ribu ton.

Target yang dibebankan kepada Kabupaten Rembang untuk mendukung swasembada pangan tersebut meningkat 49 ribu ton. Target tersebut optimis bisa terpenuhi, karena ditunjang penambahan lahan Perhutani seluas 800 hektar.