Tangkapan Ikan Menurun, Perikanan Budidaya Solusi Kesejahteraan Nelayan

UDANG VANNAME - Kawasan minapolitan Desa Tireman Rembang. Sebuah tambak garam yang mulai diubah menjadi perikanan budidaya udang, khususnya vanname. (Foto: Diskanlut Jateng)
UDANG VANNAME – Kawasan minapolitan Desa Tireman Rembang. Sebuah tambak garam yang mulai diubah menjadi perikanan budidaya udang, khususnya vanname. (Foto: Diskanlut Jateng)

Rembang, REMBANG DAILY ** Merespons penurunan pendapatan nelayan akibat penurunan produksi dan tingginya biaya melaut, sedikit demi sedikit masyarakat dapat meninggalkan perikanan tangkap, berganti dengan budidaya perikanan.

“Budidaya perikanan tidaklah mudah, karena semua itu kembali kepada modal dan sumberdaya manusia yang dimiliki. Di sisi lain, pemerintah dapat membatasi jumlah kapal penangkap ikan,” ujar peneliti Rembang, Kurniadi Sosiawan, dalam tesis yang ia tulis berjudul ‘Peran Kawasan Bahari Terpadu Rembang terhadap Ekonomi Lokal di Desa Tasikagung Rembang’ terbitan Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro Semarang tahun 2008.

Kabupaten Rembang memiliki panjang pantai sekira 63,5 kilometer yang membentang dari Kecamatan Kaliori di sebelah Barat hingga Kecamatan Sarang di sebelah Timur. Menurut Kurniadi, panjang pantai tersebut menjadi keuntungan komparatif yang tidak dimiliki semua kabupaten. Ekosistem wilayah pantai yang begitu besar menyediakan manfaat yang besar bagi masyarakat.

“Sektor perikanan dan kelautan Rembang dengan kegiatan utama perikanan tangkap merupakan sektor yang cukup berkembang serta memiliki multiplier effect yang luas terhadap kegiatan ekonomi masyarakat,” terang laki-laki kelahiran Banjarnegara tersebut.

Meski demikian, sambungnya, prospek perikanan tangkap dalam jangka panjang dirasa kurang bisa memberikan harapan bagi peningkatan kesejahteraan nelayan.

“Kondisi tersebut mulai dirasakan oleh para nelayan setempat pada beberapa tahun terakhir dengan menurunnya hasil tangkapan dan naiknya biaya operasional yang harus mereka tanggung,” tuturnya.

Ia menyarankan, diperlukan adanya kegiatan rumponisasi, yaitu kegiatan membuat tempat perkembangbiakan ikan, sehingga ketersediaan sumberdaya ikan akan tetap terjaga.

Selain itu, penerapan teknologi penyimpanan hasil tangkap. Karena, dengan cara-cara yang dilakukan saat ini, nilai tambah yang diperoleh nelayan cenderung rendah. Misalnya, karena harga es yang mahal, pengawetan hasil tangkap beralih menggunakan garam.

“Dengan melihat keberhasilan pengembangan Kawasan Bahari Terpadu, Pemerintah Rembang bisa mengembangkan wilayah pesisir lainnya dengan pola yang sama, yaitu pengembangan wilayah yang lebih menekankan sumberdaya lokal,” ucap Kurniadi.

Penguatan Rantai Nilai

Alumnus Fakultas MIPA Jurusan Matematika Program Studi Statistika Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tersebut mengatakan, untuk memperkuat daya saing, dapat dilakukan penguatan rantai nilai.

“Untuk memperkuat rantai nilai di sektor perikanan, dilakukan penguatan struktur, peningkatan nilai tambah, peningkatan mutu, serta perluasan penguasaan pasar,” jelasnya.

Untuk memperkuat rantai nilai perikanan, seperti diketahui, pemerintah telah memfasilitasi kredit lunak bagi nelayan, perbaikan sarana prasarana, maupun pelatihan-pelatihan pengolahan hasil perikanan.