Swasembada Pangan 2015, Rembang Ditarget Hasilkan 249 Ribu Ton Padi

OPTIMIS - Plt Bupati Rembang, Abdul Hafidz, saat menghadiri Panen Raya di Desa Ngadem, Kamis (19/3/2015). (Foto: Pemkab Rembang)
OPTIMIS – Plt Bupati Rembang, Abdul Hafidz, saat menghadiri Panen Raya di Desa Ngadem, Kamis (19/3/2015). (Foto: Pemkab Rembang)

Rembang, REMBANG DAILY ** Pada 2015, Kabupaten Rembang ditarget untuk mencapai produksi padi sejumlah 249 ribu ton. Untuk mewujudkannya, pemerintah menggulirkan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu padi hibrida, jagung, dan kedelai.

Tahun ini, pemerintah pusat juga memberikan bantuan rehab jaringan irigasi seluas 3000 hektar, program optimasi lahan seluas 1300 hektar, bantuan 32 unit hand traktor dan 12 unit pompa air, serta bekerja sama dengan TNI.

“Panen padi pada tahun ini diperkirakan lebih baik dari tahun sebelumnya. Jika sebelumnya rata-rata dalam satu hektarnya 5,6 ton, sekarang bisa di atas 7 ton. Bahkan hasil ubinan pada panen raya di Desa Ngadem Kecamatan Rembang cukup menggembirakan. Pasalnya, dalam satu hektar dihasilkan 8,8 ton padi jenis Ciherang,” ujar Plt Bupati Rembang, Abdul Hafidz, saat menghadiri Panen Raya di Desa Ngadem, Kamis (19/3/2015).

Pada 2013, dari total lahan 44 ribu menghasilkan 206 ribu ton, sementara tahun 2014, hanya menghasilkan 170 ribu. Tahun ini, menurut Hafidz, Pemerintah Kabupaten memperkirakan, produktivitas padi mencapai angka 249 ribu ton.

“Kenaikan yang cukup signifikan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Cuaca yang lebih persahabatan, kecukupan pupuk, dan tidak serangan hama yang berarti menjadi faktor yang ikut mendukung kenaikan produktivitas,” tuturnya.

Target yang dibebankan kepada Kabupaten Rembang untuk mendukung swasembada pangan meningkat 49 ribu ton. Target tersebut optimis bisa terpenuhi karena ditunjang dengan penambahan lahan Perhutani seluas 800 hektar.

“Jika secara itung-itungan di lahan Perhutani satu hektarnya minimal bisa menghasilkan 4 ton maka akan ada tambahan 3.200 ton,” ucap Plt Bupati.

Meski demikian, sambungnya, beberapa daerah terancam puso, seperti Sluke, Kragan wilayah utara, dan Sarang wilayah utara. Totalnya ada sekitar 300 sampai 400 hektar. Hal tersebut dikarenakan kurangnya curah hujan.

“Namun, dalam seminggu ke depan ini ada hujan. Kemungkinan, puso tidak akan terjadi,” pungkasnya.

Jawa Tengah Swasembada Pangan

Pada Kamis (15/1/2015), penandatangan MoU tentang peningkatan swasembada pangan di Jawa Tengah antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Kodam IV/Diponegoro berlangsung di Desa Gelagahwangi, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten.

Penandatanganan MoU merupakan tindaklanjut dari perintah Presiden RI beberada waktu lalu dalam rangka mewujudkan Swasembada Pangan Nasional. Kodam IV/Diponegoro siap mendukung Program Swasembada Pangan di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jawa Tengah sangat potensial mengembangkan Program Swasembada Pangan, mengingat beberapa wilayah tertentu merupakan penghasil bahan pangan yang setiap tahun menunjukkan peningkatan produksi, meskipun keberhasilan ini belum secara menyeluruh diikuti oleh wilayah lain.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menargetkan tanaman padi raja lele per hektar sejumlah 8 ton. Sedangkan target produksi dalam jangka waktu 3 tahun menuju swasembada pangan juga didukung dengan tanaman holtikultura pendukung lain, seperti mangga, durian, dan lainnya.