32 Kelompok Tani Rembang Terima Bansos Jaringan Irigasi dan Optimalisasi Lahan

PETANI REMBANG - Seorang petani melon Rembang tengah mengamati tanaman jerih payahnya. (Foto: Hipsi Rembang)
PETANI REMBANG – Seorang petani melon Rembang tengah mengamati tanaman jerih payahnya. (Foto: Hipsi Rembang)

Rembang, REMBANG DAILY ** Sejumlah 32 kelompok tani di Rembang menerima bantuan sosial sebesar Rp3 miliar untuk jaringan irigasi seluas 3.000 hektar lahan pertanian, serta Rp1,56 miliar untuk optimalisai lahan seluas 1.300 hektar lahan pertanian.

“Secara rinci, bantuan sosial sebesar Rp3 miliar untuk jaringan irigasi seluas 3.000 hektar lahan pertanian di Rembang. Sedangkan Rp1,56 miliar untuk optimalisai lahan seluas 1.300 hektar lahan pertanian,” ujar Kasi Perlindungan Tanaman dan Hortikultura, Dinas Peranian dan Kehutanan Rembang, Tri Atmo Widodo, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, untuk bantuan jaringan irigasi diserahkan kepada 32 kelompok dan optimasi lahan kepada 61 kelompok tani. Dengan perbaikan jaringan irigasi dan optimasi lahan, diharapkan bisa meningkatkan produktivitas pertanian sesuai progam pemerintah pusat menuju swasembada pangan.

Setelah pencanangan perbaikan dan pengembangan irigasi pada Januari 2015, pada Kamis (5/3/2015), semua kelompok tani yang mendapatkan alokasi dana bantuan menandatangani berkas-berkas persyaratan pencairan dana bantuan.

“Ada enam berkas yang harus diajukan kelompok tani. Di antaranya berkas kerja sama, ringkasan kontrak, permohonan transfer dana bantuan, bukti pembayaran atau kuitansi, dan Rencana Usulan Kegiatan Kelompok (RUKK),” terang Widodo, seperti dirilis Pemkab Rembang.

Pada 10 Maret 2015, berkas-berkas tersebut dikirim ke provinsi dan menunggu persetujuan. Setelah selesai, dana bisa secepatnya cair melalui rekening kelompok tani. Proyek pengerjaan pengembangan irigasi juga bisa segera dikerjakan.

Kesejahteraan Petani

Menurut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RPKD) Kabupaten Rembang 2014, kinerja sektor perekonomian Kabupaten Rembang selama lima tahun terakhir mengalami stabilitas pertumbuhan pada kisaran angka di atas 4 persen.

Pada 2009, laju pertumbuhan ekonomi mencapai angka 4,46 persen di mana pertumbuhan tertinggi berada di sektor bangunan (8,16 persen) dan terendah di sektor industri pengolahan (2,69 persen).

Tren kenaikan Laju Pertumbuhan Ekonomi terus berlanjut pada 2010 di mana mencapai 4,45 persen, melambat menjadi 4,40 persen pada 2011 dan meningkat kembali menjadi 4,48 persen pada 2012.

Tren pertumbuhan perekonomian selama dua tahun terakhir masih disokong oleh perkembangan sektor pertanian terutama subsektor tanaman pangan dengan indikasi perbaikan produktivitas serta harga komoditas padi dan palawija, di samping perkembangan signifikan komoditas subsektor perkebunan dan perikanan.

Selain itu, terus tumbuhnya kinerja sektor bangunan dengan rata-rata pertumbuhan 7,59 persen juga turut mempengaruhi kinerja perekonomian Kabupaten Rembang secara keseluruhan.

Nilai Tukar Petani (NTP) Kabupaten Rembang 2010-2012 mengalami perkembangan cukup baik meskipun belum mencapai kondisi ideal. NTP merupakan rasio antara Indeks Harga yang Diterima Petani dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani. Apabila harga barang/produk pertanian naik, dengan asumsi volume produksi tidak berkurang maka penerimaan/pendapatan petani dari hasil panennya juga akan bertambah.

Untuk melihat tingkat kesejahteraan petani secara utuh diperlukan faktor pembentuk lain, yaitu perkembangan jumlah pengeluaran/pembelanjaan mereka, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun produksi. Petani sebagai produsen dan konsumen dihadapkan kepada pilihan alokasi pendapatannya.

Pada 2010, NTP Kabupaten Rembang sebesar 98,00 persen, kemudian tahun 2011 naik menjadi 98,59 persen, sedang pada 2012 naik menjadi 99,18 persen. Kenaikan NTP di Kabupaten Rembang terus diupayakan melalui peningkatan indeks yang diterima petani, di antaranya stabilisasi harga komoditas tanaman pangan, insentif usaha tani, fasilitasi permodalan bagi petani, serta penguatan kelembagaan dan kemitraan petani dengan stakeholder pertanian.